Sambang Dekengan Pusat: Satlantas Polres Blitar Kota Gandeng Gus Iqdam Demi Tertib Lalu Lintas

Blitar, serayunusantara.com — Langkah berbeda diambil Satlantas Polres Blitar Kota dalam mengampanyekan keselamatan berkendara. Kali ini, petugas menggandeng pendakwah muda yang tengah naik daun, Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam.

Lewat pendekatan persuasif di markas Sabilu Taubah, polisi mengajak para jamaah “Dekengan Pusat” untuk tidak hanya tertib dalam beribadah, tetapi juga menjadi teladan dalam mematuhi aturan lalu lintas di jalan raya, Rabu (04/02/2026).

Edukasi ini sengaja menyasar pengajian rutin karena massa yang hadir sangat besar dan didominasi oleh anak muda.

Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan helm standar (SNI), larangan penggunaan knalpot brong yang bising, hingga kelengkapan surat kendaraan.

Kolaborasi ini diharapkan efektif meredam angka pelanggaran jalanan melalui pesan-pesan religius yang disampaikan secara santai dan menyentuh hati.

Muklisin (44), salah seorang jamaah yang hadir, menyambut baik cara polisi merangkul ulama.

Baca Juga: Pastikan Keamanan Mudik dan Wisata: Kapolres Blitar Kota Pimpin Inspeksi “Ramcek” di Terminal Patria

“Rasanya lebih masuk ke hati kalau yang menasihati Gus Iqdam bareng Pak Polisi. Saya jadi paham, bahwa keren itu bukan karena knalpotnya berisik, tapi karena kita menghargai nyawa sendiri dan orang lain dengan memakai helm serta surat-surat yang lengkap,” tuturnya penuh semangat.

Data kepolisian menunjukkan bahwa angka kecelakaan di kalangan usia produktif masih cukup tinggi.

Dengan hadirnya Gus Iqdam sebagai influencer spiritual, Satlantas Polres Blitar Kota optimis tingkat kesadaran masyarakat—terutama kaum milenial—akan meningkat secara signifikan.

Polisi menegaskan bahwa keselamatan di jalan adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan atas keselamatan raga kita.

Melalui sinergi antara aparat penegak hukum dan tokoh agama ini, Kota Blitar diharapkan mampu menjadi pionir daerah dengan tingkat kedisiplinan lalu lintas yang tinggi namun tetap berbasis kearifan lokal dan nilai-nilai religius. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *