Singapura Tegas Tolak Tarif Selat Hormuz, Indonesia Didorong Perkuat Strategi Maritim

Singapura, serayunusantara.com – Pemerintah Singapura menegaskan tidak akan melakukan negosiasi ataupun membayar biaya kepada Iran terkait akses pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis di kawasan Teluk Persia.

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menyampaikan bahwa hak melintas di selat internasional merupakan prinsip global yang tidak bisa dibatasi oleh negara mana pun. Ia menegaskan bahwa pelayaran di Selat Hormuz bukanlah izin yang harus diminta atau dikenakan tarif tertentu.

Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Bahas Skema Evakuasi Aman

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya Selat Malaka yang dinilai memiliki nilai strategis sangat tinggi dalam perdagangan dunia. Jalur ini menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia serta menjadi salah satu rute tersibuk secara global.

Sikap tegas Singapura tersebut memicu respons dari Malaysia. Nurul Izzah Anwar dari Partai Keadilan Rakyat menilai pendekatan Singapura terkesan tidak netral dalam dinamika konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menegaskan bahwa Malaysia memilih jalur diplomasi guna menjaga stabilitas kawasan dan keamanan distribusi energi.

Menurutnya, pendekatan diplomatik memungkinkan kapal-kapal tetap melintas dengan aman di wilayah tersebut tanpa memperkeruh situasi. Ia juga menilai pentingnya menjaga keseimbangan dalam menyikapi konflik global.

Baca Juga: Ancaman Trump ke Iran Memanas, Warga Diminta Bentuk Rantai Manusia Lindungi Infrastruktur

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam jalur pelayaran dunia. Ia menekankan pentingnya penguatan peran Indonesia dalam mengelola jalur laut utama seperti Selat Malaka di tengah meningkatnya ketegangan global.

Meski tidak bergantung langsung pada Selat Hormuz untuk impor minyak, Indonesia tetap berpotensi terdampak jika terjadi gangguan. Pasalnya, sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga berpengaruh terhadap harga energi global.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah jalur laut penting seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Namun, potensi ini dinilai belum dimaksimalkan sebagai kekuatan strategis dalam percaturan global.

Baca Juga: Iran Konfirmasi Tembak Jatuh Jet Tempur F-15E Amerika, Operasi Penyelamatan Pilot Berlangsung

Pengamat geopolitik Bayu Sasongko menilai kondisi global saat ini menuntut Indonesia untuk lebih aktif memperkuat strategi maritim. Ia mengingatkan bahwa jika jalur laut mulai dipolitisasi atau dikomersialisasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar biaya, melainkan kedaulatan negara.

Dalam situasi ini, penguatan diplomasi maritim, konsistensi terhadap prinsip kebebasan navigasi, serta ketahanan energi menjadi langkah penting yang perlu diperkuat Indonesia ke depan. (Jun)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *