Terbanyak di Jawa Tengah, 253 MAN 1 Surakarta Diterima di PTKIN

Dir KSKK Madrasah M Isom Yusqi bersama civitas akademika MAN 1 Surakarta (Foto: Kemenag RI)

Surakarta, serayunusantara.com — Melansir dari laman Kemenag RI,  Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta menjadi madrasah dengan siswa terbanyak di Jawa Tengah yang diterima di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Total ada 253 siswa yang masuk PTKIN. “Alhamdulillah siswa yang diterima jalur SNBP sebanyak 84 siswa dan SPAN PTKIN sebanyak 169 siswa. Sehingga MAN 1 Surakarta menempati peringkat pertama di Jawa Tengah yang siswanya paling banyak diterima di perguruan tinggi,” ungkap Kepala MAN 1 Surakarta Slamet Budiyono, Selasa (6/6/2023).

Hal itu disampaikan Slamet Budiono saat berbicara pada seminar Penguatan Budaya Kerja Kementerian Agama di Era Disrupsi menuju Madrasah Mandiri Berprestasi, di gedung pusat pembelajaran terpadu MAN 1 Surakarta. Hadir sebagai narasumber, Direktur Kurikulum , Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Moh Isom Yusqi.

“Hal ini sesuai dengan tagline madrasah MELOMPAT, yaitu Mendunia, Loyal, Maju, Prestasi dan Moderat,” ucapnya di hadapan para guru dan tenaga kependidikan di MAN 1 Surakarta.

Moh Isom Yusqi dalam sambutannya menjelaskan, bahwa saat ini, masyarakat sedang dihadapkan pada tantangan era disrupsi. Era disrupsi adalah fenomena ketika terjadi perubahan atau lompatan besar yang menyebabkan seluruh tatanan berubah.

Baca Juga: Di Jatim, Kemenag dan PBNU Sosialisasi Program Ketahanan Keluarga

Menurutnya, ada empat fenomena yang muncul dan harus dihadapi manusia pada era ini. Pertama, terjadinya perubahan iklim (Climate Change).

“Saat ini fenomena yang terjadi yang kita rasakan adalah musim tidak jelas, seharusnya musim hujan malah musim kemarau atau sebaliknya yang berpengaruh pada terjadinya kondisi alam yang tidak normal,” urai Isom.

“Dalam lingkup yang kecil, madrasah perlu menggalakkan kegiatan penghijauan agar lingkungan menjadi lebih sehat,” sambungnya.

Gejala kedua, bersiap dalam menghadapi persaingan di era global. Semua aspek kehidupan saat ini menuju kondisi mendunia. Artinya, batas-batas geografis semakin longgar.

“Kita harus bersiap menghadapi gempuran guru-guru dari luar negeri yang bisa menggeser guru-guru kita. Upaya konkrit adalah dengan meningkatkan kompetensi diri, misalnya penguasaan bahasa asing yang menjadi salah satu syarat untuk bersaing di era global,” sebutnya.

Baca Juga: Ace Hasan: Anggaran Pendidikan 2024 di Kemenag Perlu Ditingkatkan

Ketiga, lanjut Isom, terjadinya perubahan demografi. Keempat, penguasaan pengetahuan bidang IT. “Sebagai guru kita harus membekali kemampuan kita di bidang IT agar kita bisa bersaing di era global. Hal ini mutlak dilakukan karena pengetahuan bidang IT merupakan salah satu indikator dari kemajuan suatu bangsa,” ungkap Isom.

Isom mengapresiasi tagline MELOMPAT MAN 1 Surakarta. Dia berharapseluruh civitas akademika MAN 1 Surakarta dapat menginternalisasi nilai-nilai yang ada dalam tagline tersebut.

“Perlu disosialisasikan kepada seluruh civitas akademika bahwa madrasah ini berorientasi budaya saing global, loyal dengan keindonesiaan, keislaman, dan kearifan lokal. Terus menggenjot prestasi baik nasional maupun internasional namun harus tetap moderat dan tidak arogan. Harapannya MAN 1 Surakarta tetap menjadi ikon pendidikan Islam (madrasah) yang memiliki distingsi atau pembeda dari lembaga pendidikan yang lain, baik di Surakarta, Jawa Tengah dan Indonesia,” pungkas Isom.

Sebelum memberikan materi, Direktur KSKK ini berkenan mengunjungi Observatorium As Syi’ra MAN 1 Surakarta yang menjadi salah satu titik pengamatan hilal di Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *