Serayunusantara.com – Banyak orang mengira urusan duit itu soal pinter-pinteran ngitung angka, rumus investasi yang njelimet, atau jago baca grafik saham yang bentuknya mirip rumput tetangga.
Tapi, Morgan Housel lewat bukunya, The Psychology of Money, datang membawa kabar buruk bagi kita semua: Mengelola uang itu ternyata bukan soal matematika, tapi soal seberapa “waras” emosi dan perilaku kita.
Kalau kata anak sekarang, finansial itu soft skill, bukan hard science.
Housel nggak jualan mimpi jadi miliarder dalam semalam. Dia justru sibuk mempreteli isi kepala kita yang seringkali lebih besar gengsi daripada fungsi.
Mari kita bedah isi buku ini sambil merenung, sudah sejauh mana kita menjajah diri sendiri demi terlihat kaya.
1. Dosa Besar Bernama “Pindah Tiang Gawang”
Masalah utama manusia modern itu satu: Nggak tahu kapan harus bilang “cukup”. Kita ini hobi banget mindahin tiang gawang. Baru punya gaji 5 juta, pengen 10 juta.
Sudah punya 10 juta, ngerasa nggak level kalau nggak beli iPhone model terbaru. Begitu terus sampai upacara pemakaman.
Housel mengingatkan, kalau standar hidupmu naik terus seiring naiknya pendapatan, kamu sebenernya nggak pernah kaya. Kamu cuma lagi lari di atas treadmill yang kecepatannya ditambah terus.
Capek, Bos. Rasa puas itu emosi, dan kalau kamu nggak bisa mengendalikannya, kamu bakal mempertaruhkan apa yang kamu butuhkan demi sesuatu yang sebenernya cuma kamu inginkan.
2. Bedanya “Rich” dan “Wealthy” (Duit Pamer vs Duit Nyata)
Ini bagian yang paling pedas. Housel bilang, “Spending money to show people how much money you have is the fastest way to have less money.” (Pamer duit biar orang tahu kamu kaya adalah cara paling cepet buat jadi miskin).
Dia membedakan antara Rich dan Wealthy. Rich itu penampakan luar: Mobil kinclong, baju bermerek, dan jam tangan yang harganya bisa buat beli sawah di desa.
Itu kekayaan yang dipamerkan. Sedangkan Wealthy adalah kekayaan yang nggak kelihatan: Saldo bank yang utuh, aset yang muter, dan uang yang belum dibelanjakan.
Singkatnya: Rich itu soal gaya hidup, Wealthy itu soal kebebasan. Masalahnya, kita lebih sering minder sama orang yang Rich dan lupa kalau mereka mungkin saja punya utang yang lebih besar daripada cicilan motor kita.
3. Investasi Paling Berharga adalah “Tidur Nyenyak”
Alih-alih menyuruh kita jadi robot yang paling logis secara angka, Housel menyarankan kita jadi manusia yang “masuk akal” (reasonable).
Maksudnya gimana? Gini. Secara matematika, mungkin lebih untung kalau semua duitmu ditaruh di saham yang paling berisiko. Tapi kalau setiap malam kamu nggak bisa tidur karena takut pasar anjlok, ya buat apa?
Investasi yang bagus adalah investasi yang bikin kamu tetap tenang, nggak panik saat harga turun, dan nggak maruk saat harga naik.
Strategi terbaik adalah strategi yang bikin kamu bisa bertahan dalam jangka panjang tanpa kena serangan jantung.
4. Keajaiban “Compounding” dan Kesabaran yang Tipis
Kita sering silau sama kecerdasan Warren Buffett. Padahal, rahasia terbesarnya bukan cuma kepintarannya milih saham, tapi karena dia sudah mulai investasi sejak umur 10 tahun dan nggak berhenti sampai sekarang dia kakek-kakek.
Kekayaan itu soal waktu, bukan cuma soal besaran bunga. Sayangnya, emosi kita seringkali nggak sabaran. Kita pengen kaya sekarang juga.
Padahal, uang itu ibarat tanaman; kalau baru ditanam sore, jangan harap besok pagi sudah bisa buat bikin rumah kayu.
Kesimpulan: Uang adalah Pembeli Waktu
Pada akhirnya, tujuan utama kita punya uang banyak menurut buku ini bukan buat beli Ferrari atau tas Hermes. Tujuan tertingginya adalah agar kita bisa bangun tidur setiap pagi dan berkata:
“Hari ini, saya bebas mau melakukan apa saja dengan siapa saja.”
Duit itu cuma alat buat beli kendali atas waktu kita sendiri.
Kalau kamu punya gaji gede tapi waktu dan jiwamu dijajah oleh pekerjaan yang kamu benci sampai nggak punya waktu buat ngopi tenang, sebenernya kamu itu orang miskin yang kebetulan pegang banyak cash.
Jadi, sudahkah Anda merasa cukup hari ini, atau masih mau cicil gengsi lagi?
Penulis: Reyda Hafis/Serayunusantara.com












