Blitar, serayunusantara.com — Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Nahdlatul Ulama Blitar menilai kampusnya tengah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Desakan evaluasi hingga pergantian rektor menguat setelah masa berlaku Surat Keputusan (SK) rektor dinyatakan telah berakhir.
Ketua Komisariat PMII UNU Blitar, Ahmad Kafiy, menyampaikan bahwa indikator penurunan paling terasa terlihat dari jumlah mahasiswa baru yang terus menurun dari tahun ke tahun.
“Secara kuantitatif, mahasiswa mengalami penurunan signifikan. Ini bukan sekadar angka, tapi alarm serius bagi keberlanjutan institusi. Kampus tidak boleh berjalan tanpa akselerasi dan inovasi,” tegas Ahmad Kafiy.
Selain itu, ia juga menyoroti intensitas kehadiran pimpinan kampus. Menurutnya, rektor dinilai jarang berada di lingkungan kampus dan hanya terlihat saat momentum wisuda.
“Kepemimpinan itu bukan simbolik. Kalau hadir hanya saat seremoni, lalu siapa yang memastikan tata kelola akademik, atmosfer ilmiah, dan arah strategis kampus berjalan konsisten?” lanjutnya.
Baca Juga: Perkuat Ruhul Qur’an, Majelis Khotmil Qur’an UNU Blitar Gelar Khataman dan Buka Bersama
Isu lain yang disorot adalah adanya larangan atau pembatasan terhadap aktivitas organisasi mahasiswa. PMII menilai hal tersebut bertentangan dengan semangat historis berdirinya kampus yang lahir dari rahim gerakan dan organisasi.
“UNU dilahirkan oleh organisasi. Kalau hari ini mahasiswa dibatasi untuk berorganisasi, itu kontradiktif dengan DNA kampus sendiri. Banyak dosen bahkan tidak memahami visi-misi kelembagaan secara utuh. Ini problem ideologis sekaligus manajerial,” ujar Ahmad Kafiy.
Ia menegaskan bahwa desakan pergantian rektor bukan didasari sentimen personal, melainkan kebutuhan regenerasi dan perbaikan tata kelola kampus.
“Kami tidak sedang menyerang individu. Ini soal keberlanjutan institusi. Ketika SK sudah habis, maka momentum evaluasi harus diambil secara objektif. Kampus butuh pemimpin yang progresif, hadir secara nyata, dan mampu membangun kembali kepercayaan publik,” tutupnya.
Komisariat PMII UNU Blitar berharap pihak yayasan dan pemangku kebijakan segera mengambil langkah strategis demi memulihkan kualitas dan marwah kampus ke depan.
“Kampus itu bukan panggung formalitas. Kalau grafik turun tapi semua pura-pura stabil, itu bukan optimisme. Itu denial,” pungkasnya. (Fis/Serayu)
























