Blitar, serayunusantara.com – Isak tangis S (38) pecah di sudut sebuah kamar hotel di Kota Blitar, Jumat (20/2/2026). Di balik riasan wajah yang mencoba menutupi letih, tersimpan luka panjang yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu akibat sakit, hidupnya seperti runtuh seketika. Ia kini menjadi satu-satunya penopang bagi dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak.
“Kalau ingat suami, rasanya dada ini sesak. Tapi saya tidak boleh lemah. Anak-anak cuma punya saya,” ucapnya dengan suara bergetar.
S tak pernah membayangkan langkah hidupnya akan membawanya ke dunia gelap sebagai pekerja seks komersial berkedok pijat plus panggilan. Jalan itu, katanya, bukan pilihan, melainkan keterpaksaan. Lilitan utang dan kebutuhan sehari-hari memaksanya menelan pahitnya stigma.
Baca Juga: Di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Makanan Gerobakan di Blitar Tetap Jadi Primadona
Awalnya, ia mencoba bertahan dengan pekerjaan serabutan. Mencuci pakaian tetangga, berjualan makanan kecil, hingga bekerja serabutan apa saja yang bisa menghasilkan uang. Namun penghasilan tak sebanding dengan cicilan utang dan biaya sekolah anak.
“Sehari dapat lima puluh ribu saja sudah syukur. Tapi utang harus bayar ratusan ribu. Saya pusing, bingung harus bagaimana,” tuturnya, matanya berkaca-kaca.
Utang itu bermula dari upaya menyelamatkan nyawa sang suami. Biaya pengobatan yang membengkak memaksanya meminjam uang dari tetangga hingga koperasi harian dengan bunga tinggi.
Harapannya sederhana: suaminya sembuh dan kembali bekerja. Namun takdir berkata lain. Suaminya pergi untuk selamanya, sementara tagihan terus datang tanpa ampun.
“Saya pernah ditagih tiap hari. Kadang sampai diteriaki depan rumah. Anak-anak lihat saya dimarahi. Itu yang paling sakit,” katanya lirih.
Tekanan demi tekanan membuatnya goyah. Dalam kondisi terdesak dan tanpa keahlian khusus, seorang kenalan menawarkan pekerjaan di tempat hiburan malam. Dari situlah ia mulai mengenal dunia yang dulu hanya ia dengar sebagai cerita miring.
“Saya menangis waktu pertama kali. Saya merasa hina. Tapi saya ingat anak-anak belum makan,” ujarnya, tak kuasa menahan air mata.
Baca Juga: Pertokoan di Kota Blitar Kian Sepi, Dampak Perubahan Belanja ke Sistem Online
Setiap kali keluar rumah untuk bekerja, ia selalu berbohong kepada anak-anaknya, mengaku mendapat kerja malam sebagai tukang pijat biasa. Rasa bersalah menghantuinya hampir setiap hari. Ia takut suatu saat kebenaran terungkap dan menghancurkan masa depan buah hatinya.
“Saya tidak bangga dengan pekerjaan ini. Saya cuma ingin anak-anak tetap sekolah, tidak putus seperti saya,” katanya.
Di balik kisah S, tersimpan potret getir tentang kemiskinan dan minimnya jaring pengaman sosial bagi keluarga rentan. Ketika kepala keluarga pergi dan beban ekonomi datang bertubi-tubi, pilihan hidup seakan menyempit hingga nyaris tak menyisakan ruang.
Kini, S hanya memendam satu harapan: pekerjaan yang lebih layak agar ia bisa keluar dari lingkaran gelap tersebut. “Saya ingin berhenti. Saya ingin hidup normal. Saya cuma ingin anak-anak saya tumbuh tanpa malu karena ibunya,” ucapnya pelan, sebelum kembali menunduk, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. (jun)


















