Aksi Damai PSHT di Madiun, Sosok Sesepuh 75 Tahun Jadi Sorotan

Madiun, serayunusantara.com — Aksi damai Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang digelar pada Kamis (5/2/2026) di seputaran Padepokan Agung Madiun (PAM) menyita perhatian publik.

Ribuan warga PSHT dari berbagai daerah hadir dengan tertib untuk menyuarakan aspirasi mereka, yakni menuntut tidak diizinkan adanya kegiatan prapatan luhur (Parluh) yang digelar oleh kubu Morjoko.

Di tengah lautan massa berbaju hitam, sosok Mardi (75), seorang sesepuh asal Desa Semberagung, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, justru menjadi pusat perhatian. Dengan langkah pelan namun mantap, Mardi tampak mengikuti aksi sejak awal hingga akhir.

Baca Juga: Tegaskan Legitimasi Badan Hukum, Massa PSHT Kepemimpinan M. Taufiq Gelar Aksi Tolak Parluh 2026 di Madiun

Kepada wartawan, Mardi mengaku hadir bukan tanpa alasan. Di usia senjanya, ia merasa terpanggil harus turun gunung untuk ikut menyuarakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

“Saya datang bukan karena ikut-ikutan. Hati saya terpanggil. Saya ingin menegakkan kebenaran dan menjaga marwah PSHT,” ujar Mardi dengan suara bergetar namun tegas.

Aksi damai tersebut digelar sebagai bentuk permohonan kepada pihak berwenang agar tidak mengizinkan pelaksanaan kegiatan Prapatan Luhur (Parluh) yang rencananya digelar oleh pihak Morjoko.

Massa aksi menilai kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan dan tidak sejalan dengan nilai-nilai persaudaraan yang selama ini dijunjung PSHT.

Baca Juga: PSHT Kabupaten Blitar Punya Sikap Tegas, Tutup Ruang bagi Pihak yang Mengaku-ngaku!

Menariknya, sepanjang aksi berlangsung, peserta tetap menjaga ketertiban. Tidak ada teriakan provokatif, apalagi tindakan anarkis.

“Ini aksi damai. Kami datang dengan niat baik dan pulang dengan tertib. Kami percaya aparat akan bersikap bijak,” kata Ketua Cabang PSHT Kabupaten Blitar, Tugas Nanggolo Yudha atau biasa dipanggil Bagas Karangsono, yang satu rombongan dengan Mbah Mardi.

Kehadiran Mardi menjadi simbol kuat bahwa perjuangan menjaga nilai dan ajaran PSHT lintas generasi. Di saat sebagian orang memilih diam, sesepuh berusia 75 tahun itu justru turun langsung ke lapangan.

Aksi damai berakhir pada sore hari dengan tertib. Massa membubarkan diri secara sukarela, meninggalkan pesan kuat bahwa suara kebenaran dapat disampaikan tanpa kekerasan, dengan persaudaraan sebagai landasan utama. (Jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *