Kediri, serayunusantara.com — Mengawali tahun 2026, Kota Kediri mencatatkan fenomena ekonomi berupa deflasi. Berdasarkan data terbaru, penurunan harga komoditas pangan, terutama cabai, menjadi faktor determinan yang menekan angka inflasi di wilayah tersebut.
Melimpahnya pasokan dari petani lokal serta kondisi cuaca yang mendukung masa panen membuat harga cabai di pasar-pasar tradisional turun signifikan dibandingkan akhir tahun lalu, Selasa (03/02/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penurunan harga cabai memberikan andil besar terhadap deflasi bulanan.
Selain cabai, beberapa komoditas dapur lainnya juga terpantau stabil dan cenderung menurun, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Kondisi ini dipandang positif bagi konsumen, meski pemerintah daerah tetap melakukan pengawasan agar harga di tingkat petani tidak jatuh terlalu dalam yang dapat merugikan para produsen.
Baca Juga: Deflasi Januari 2026 Menghunjam Dalam: BPS dan TPID Kota Kediri Siapkan Langkah Strategis Pencegahan
Rahman (42), seorang ibu rumah tangga sekaligus pemilik warung makan, menyambut baik tren penurunan harga ini.
“Tips dari saya untuk ibu-ibu atau pelaku usaha kuliner, mumpung harga cabai lagi murah, ini waktu yang tepat untuk menyetok bumbu atau membuat olahan cabai yang tahan lama seperti sambal botolan,” jelasnya saat ditemui di Pasar Setono Betek.
Pemerintah Kota Kediri melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pergerakan harga komoditas pokok secara harian.
Penyelarasan stok antara daerah produsen dan konsumen terus diperkuat untuk mencegah lonjakan harga yang mendadak di masa mendatang, guna menjaga stabilitas ekonomi daerah tetap kondusif.
Meskipun deflasi terjadi di awal tahun, otoritas terkait optimistis bahwa aktivitas ekonomi di Kediri akan tetap tumbuh sehat seiring dengan terjaganya harga kebutuhan dasar yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. (Fis/Serayu)











