Jakarta, serayunusantara.com – Lonjakan harga bahan baku plastik dalam beberapa bulan terakhir turut memicu tekanan pada berbagai sektor industri, terutama manufaktur dan kemasan. Di tengah kondisi tersebut, penggunaan kemasan isi ulang seperti galon guna ulang mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan.
Kenaikan harga plastik dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fluktuasi harga minyak dunia, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik global. Dampaknya, pelaku usaha termasuk UMKM serta industri makanan dan minuman harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi akibat mahalnya kemasan plastik.
Baca Juga: Cari Alternatif Impor, RI Datangkan Bahan Baku Plastik dari Afrika, India, dan AS
Di sisi lain, persoalan sampah plastik di Indonesia juga terus meningkat. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), volume sampah plastik menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir. Pada 2019, jumlahnya berada di kisaran 9–10 juta ton, kemudian meningkat menjadi sekitar 12 juta ton pada 2023 dan diperkirakan mencapai 12,4 juta ton pada 2025.
Kondisi ini semakin kompleks karena kapasitas pengelolaan sampah masih terbatas. Dari ratusan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tercatat, hanya sekitar 25 persen yang mampu mengelola sampah dengan baik, sementara sisanya belum tertangani secara optimal.
Dalam situasi tersebut, kemasan guna ulang seperti galon isi ulang dinilai menjadi solusi yang relevan. Selain lebih stabil dari sisi harga, penggunaan galon ini juga dinilai mampu menekan produksi sampah plastik karena dapat digunakan berulang kali.
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Plastik Packing Koi di Blitar Melonjak Tajam hingga 60 Persen
Praktisi komunikasi sekaligus dosen Politeknik Negeri Media Kreatif, Andre Donas, menyebut bahwa masyarakat kini semakin sadar terhadap dampak lingkungan dari konsumsi sehari-hari.
“Sejumlah pengamatan menunjukkan bahwa konsumen tetap memilih galon guna ulang dalam aktivitas sehari-hari untuk kebutuhan rumah tangga dan tempat kerja,” kata Andre dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek kesehatan dan higienitas, tetapi juga dampak lingkungan dari produk yang digunakan. Hal ini mendorong meningkatnya preferensi terhadap kemasan yang lebih berkelanjutan.
Temuan serupa juga diungkapkan oleh Peneliti Senior Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG), Aan Rusdianto. Berdasarkan hasil survei, tingkat penggunaan galon guna ulang di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang mencapai 89,36 persen, sementara penggunaan galon sekali pakai hanya sekitar 5,32 persen.
Baca Juga: Harga Botol Plastik Melonjak Hingga 80 Persen, Dampak Rantai Pasok Global Mulai Terasa di UMKM
“Umumnya alasan mereka memakai galon guna ulang karena aman, praktis, tidak menimbulkan sampah tambahan dan tidak pernah ada keluhan selama bertahun-tahun menggunakan,” kata Aan.
Sementara itu, kenaikan harga plastik di Indonesia yang mencapai 50 hingga 100 persen per April 2026 turut mendorong pelaku usaha mencari alternatif kemasan. Beberapa di antaranya mulai beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah daerah juga mengambil langkah konkret. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, mendorong pelaku UMKM menggunakan kemasan berbasis bahan alami melalui pendampingan dan skema pembelian kolektif.
“Kami mendorong penggunaan kemasan berbasis kearifan lokal seperti serat alam seperti mendong, pandan, kelapa yang melimpah di DIY sebagai pengganti plastik pelapis atau wadah,” kata Yuna Pancawati.
Dengan berbagai tekanan yang terjadi, peralihan ke kemasan guna ulang maupun bahan ramah lingkungan dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekaligus menekan dampak negatif terhadap lingkungan. (San)
























