Blitar, serayunusantara.com — Jika ada satu suara yang paling dinanti selain kumandang azan magrib saat Ramadan, itu adalah bunyi desis adonan tepung yang bertemu dengan minyak panas. Gorengan, meski sederhana, tetap mengukuhkan posisinya sebagai “Ratu” di atas meja berbuka.
Fenomena ini bukan sekadar soal rasa, melainkan peluang bisnis musiman yang menjanjikan omzet menggiurkan bagi siapa saja yang berani bermain dengan wajan dan sudip, Minggu (15/02/2026).
Menjelang bulan suci, geliat persiapan para pedagang takjil mulai terasa. Dari bakwan sayur yang renyah (bala-bala), pisang goreng madu, hingga tahu isi yang meluap, gorengan adalah komoditas yang paling cepat ludes di pasar kaget.
Modalnya yang relatif kecil namun memiliki pangsa pasar yang sangat luas menjadikan ide jualan ini sebagai primadona bagi pelaku UMKM maupun ibu rumah tangga yang ingin menambah uang saku lebaran.
Basuki (52), seorang pengamat ekonomi kerakyatan sekaligus penikmat setuju gorengan hangat, melihat potensi ini sebagai energi ekonomi yang luar biasa.
Baca Juga: Sembako Murah di Blitar Ludes dalam Sekejap, Redam Gejolak Harga Jelang Ramadan
“Ramadan itu unik, orang bisa bosan makan nasi, tapi hampir tidak ada yang bosan makan gorengan saat berbuka. Tips dari saya untuk yang mau mulai jualan, jangan cuma main di rasa, tapi main di inovasi,” ujarnya.
Strategi jualan gorengan di hari puasa memang tak pernah mati. Selain harga yang merakyat—biasanya dipatok mulai dari seribu rupiah—gorengan memiliki sifat “sosial”; sangat cocok dinikmati bersama keluarga atau dibagikan sebagai sedekah takjil di masjid.
Bagi para pemula, kunci sukses jualan gorengan terletak pada kualitas minyak yang bersih dan sambal cocolan yang “nendang” untuk memberikan kesan pertama yang tak terlupakan bagi pembeli.
Malam mulai turun, dan aroma gurih dari berbagai sudut jalanan Blitar mulai memanggil-manggil.
Gorengan bukan hanya tentang membatalkan puasa, tapi juga tentang bagaimana sebuah ide jualan sederhana mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat di bulan yang penuh berkah. (Fis/Serayu)


















