Kediri, serayunusantara.com — Tragedi kekerasan dalam keluarga yang melibatkan dugaan gangguan jiwa sering kali berawal dari gejala yang tidak terdeteksi atau diabaikan.
Untuk mencegah dampak fatal, masyarakat perlu memahami langkah-langkah medis dan psikologis yang tepat saat menghadapi anggota keluarga yang menunjukkan perubahan perilaku tidak wajar, Jumat (23/01/2026).
Pakar kesehatan mental menekankan bahwa gangguan jiwa bukan merupakan aib, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan ahli.
Deteksi dini dan penanganan yang tenang dapat meminimalisir risiko terjadinya tindakan agresif yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitar penderita.
Berikut adalah langkah-langkah penting yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga:
Tetap Tenang dan Hindari Konfrontasi: Saat penderita sedang dalam kondisi emosi tidak stabil, jangan mendebat halusinasinya atau memarahi perilakunya karena hal ini dapat memicu respons agresif.
Segera Hubungi Fasilitas Kesehatan Terdekat: Datangi Puskesmas untuk mendapatkan rujukan awal. Saat ini, banyak Puskesmas di wilayah Kediri dan Blitar yang sudah memiliki poli jiwa atau perawat terlatih kesehatan jiwa.
Manfaatkan Layanan Darurat: Jika situasi sudah membahayakan, segera hubungi perangkat desa atau kepolisian setempat untuk membantu evakuasi secara manusiawi ke Rumah Sakit Bhayangkara atau RSJ terdekat.
Pastikan Keamanan Lingkungan: Jauhkan benda-benda tajam atau barang berbahaya dari jangkauan penderita selama fase krisis.
Baca Juga: ODGJ Perempuan di Kota Kediri Dievakuasi, Apa Tujuannya?
Wahyuni (47), seorang sukarelawan pendamping kesehatan masyarakat, berbagi tips mengenai pentingnya dukungan lingkungan.
Menurutnya, kesalahan terbesar kita adalah sering kali malah mengisolasi atau memasung anggota keluarga yang sakit jiwa karena malu.
Tips darinya, segera bawa ke dokter spesialis kejiwaan (psikiater). Gangguan jiwa itu bisa dikontrol dengan obat-obatan yang rutin dikonsumsi.
“Jangan menunggu sampai terjadi peristiwa berdarah baru bertindak. Dukungan keluarga yang sabar adalah obat terbaik untuk menstabilkan kondisi mereka,” jelasnya.
Pemerintah daerah terus mengimbau agar masyarakat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia dan tidak ragu untuk berkonsultasi secara medis.
Edukasi mengenai kesehatan mental diharapkan dapat menghilangkan stigma negatif sehingga para penderita bisa mendapatkan hak pengobatan yang layak dan manusiawi. (Red/Serayu)








