Tulungagung, serayunusantara.com — Riuh rendah suara kendaraan di sekitar Taman Puring, Tulungagung, perlahan luruh saat proyektor di Warung Kopi Edukasi mulai menyala.
Malam ini, kepulan uap kopi berpadu dengan refleksi visual yang menggugah nurani dalam agenda Nonton Bareng (Nobar) dan Bedah Film “Suraci & Harun Namanya”.
Sebuah tayangan yang tak hanya menyuguhkan sinematografi, tapi juga tamparan keras mengenai kondisi ekologi kita saat ini, Sabtu (14/02/2026).
Suasana warung yang bersahaja mendadak berubah menjadi ruang kelas terbuka bagi siapa saja yang berkenan hadir.
Para pemuda, aktivis lingkungan, hingga pelanggan setia kopi tubruk duduk bersila, terpaku menatap layar yang menceritakan kegigihan sosok dalam menjaga martabat alam.
Film ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik indahnya bentang pesisir, ada ancaman sunyi yang terus menumpuk jika tak segera dibicarakan.
Irfanda (24), salah satu penonton yang hadir dan tampak serius menyimak hingga akhir durasi, membagikan kesan mendalamnya.
Baca Juga: Jemaah Padati Masjid Agung Al-Munawwar Tulungagung pada Jumat Terakhir Bulan Sya’ban
Ia merasa film ini adalah jembatan yang menghubungkan penonton dengan sosok nyata yang dedikasinya tak lekang oleh waktu.
“Menonton film ini seperti diingatkan kembali tentang konsistensi. Pak Harun itu sosok yang luar biasa, sampai hari ini beliau masih setia mengangkut sampah dari pantai,” ungkap Irfanda dengan nada bicara yang menggebu.
Diskusi yang menyusul setelah pemutaran film menjadi bagian paling hidup. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari kebijakan plastik hingga langkah kecil apa yang bisa dilakukan oleh warga Tulungagung.
Warung Kopi Edukasi sekali lagi membuktikan bahwa literasi tak harus selalu kaku di perpustakaan; ia bisa tumbuh subur di antara cangkir-cangkir kopi dan obrolan pinggir taman.
Rohman (52), yang juga hadir di lokasi, menambahkan tips bagi para penonton muda.
“Film seperti ini adalah nutrisi otak. Mulailah kurangi penggunaan plastik sekali pakai dari diri sendiri, itu cara paling sederhana menghargai perjuangan Pak Harun,” pesannya bijak.
Malam semakin larut di Taman Puring, namun api diskusi di Warung Kopi Edukasi masih terasa hangat.
Melalui sosok Harun dan film ini, publik Tulungagung diingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tren, melainkan nafas panjang yang harus terus diperjuangkan bersama. (Fis/Serayu)
























