Ngawi, serayunusantara.com– Sosialisasi Program Kesehatan Mata Inclusive System for Eye Care (I-SEE) bagi 30 Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), dilakukan 13 Februari 2026 lalu di Gedung Sekretariat IBI Kabupaten Ngawi.
Sosialisasi itu untuk memperkuat implementasi deteksi dini gangguan penglihatan di lingkungan sekolah madrasah.
Keoala Bagian TU Kantor Kementerian Agama Ngawi, Pujianto, saat membuka acara tersebut menekankan urgensi kesehatan mata di era digital.
“Kesehatan mata saat ini sangat krusial, mengingat tingginya durasi penggunaan gadget pada anak-anak yang meningkatkan potensi gangguan penglihatan,” katanya.
Menurut Pujianto, program I-SEE dari Yayasan Paramitra merupakan salah satu langkah untuk memastikan siswa tetap memiliki penglihatan yang sehat demi masa depan.
Program I-SEE merupakan kolaborasi strategis antara Yayasan Paramitra dengan Dinas Kesehatan, OPD terkait, termasuk Kemenag Ngawi.
Sebanyak 30 sekolah yang terpilih sudah memiliki guru yang mendapatkan pelatihan kompetensi skrining dan edukasi kesehatan mata pada awal Februari lalu.
Perwakilan program I-SEE, Jayanti, memaparkan data global yang menunjukkan peningkatan gangguan penglihatan pada anak usia sekolah setiap tahunnya.
Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan tidak terlambat dan tidak menghambat proses belajar-mengajar, mengingat mata adalah indra visual utama dalam aktivitas tubuh.
Pembagian peran yang jelas diperlukan untuk menyukseskan program ini. Peran pertama adalah dari guru dengan melakukan edukasi rutin kepada siswa, melaksanakan skrining mandiri, merujuk temuan gangguan penglihatan ke Puskesmas, serta memonitor penggunaan kacamata pada siswa.
Sedangkan peran kedua dari kepala sekolah l, yakni dengan memberi dukungan kebijakan yang mengintegrasikan program kesehatan mata ke dalam UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan menetapkan jadwal skrining rutin bagi seluruh siswa.
“Kami berharap para kepala sekolah dapat memberikan payung kebijakan di institusinya masing-masing, sehingga skrining mata bukan lagi kegiatan insidental, melainkan program rutin sekolah,” harap Jayanti.
Adanya sinergi antara guru, kepala sekolah, dan tenaga kesehatan, diharapkan permasalahan gangguan penglihatan pada anak di Kabupaten Ngawi dapat tertangani secara dini dan tuntas.
Kegiatan sosialisasi itu pun ditutup dengan sesi diskusi strategis mengenai langkah konkret integrasi program ke dalam kalender akademik madrasah. (jok)























