Jakarta, serayunusantara.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng sejumlah mitra internasional untuk mempercepat peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa melalui program kolaboratif yang menyasar ratusan sekolah dasar di Indonesia.
Langkah ini ditegaskan oleh Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, dalam kegiatan pencanangan kolaborasi nasional di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor guna mengatasi kesenjangan kemampuan dasar peserta didik yang masih menjadi tantangan di tingkat nasional.
Baca Juga: Kementerian Kelautan dan Perikanan Bangun KNMP di Desa Dapenda, Perkuat Ekonomi Pesisir Sumenep
Menurut Toni, hasil asesmen nasional serta berbagai studi internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan berhitung siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan secara signifikan. “Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan SDM. Namun, capaian literasi dan numerasi kita masih menghadapi tantangan besar, sehingga diperlukan langkah sistematis dan kolaboratif,” ujarnya.
Ia menambahkan, transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga mitra pembangunan, hingga masyarakat luas untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan.
Dalam program ini, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Tanoto Foundation, Bill & Melinda Gates Foundation, serta UNICEF untuk memperkuat pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional dan Gerakan Numerasi Nasional.
Baca Juga: Menuju Zero ODOL 2027, Kemenhub Dorong Penanganan Truk Over Dimensi dan Muatan Secara Menyeluruh
Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 500 sekolah dasar di enam kabupaten/kota, dengan melibatkan sekitar 1.500 guru kelas awal. Fokus kegiatan meliputi peningkatan kapasitas guru, penerapan metode pembelajaran mendalam (deep learning), serta pemanfaatan hasil asesmen sebagai dasar peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan data pendidikan secara optimal, termasuk hasil asesmen nasional, sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan dan intervensi di tingkat daerah. “Kami berharap data asesmen dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk akselerasi peningkatan kualitas pendidikan di daerah masing-masing,” kata Toni.
Ia juga menyinggung pelaksanaan tes kemampuan akademik yang saat ini tengah berjalan sebagai bagian dari pembaruan sistem asesmen nasional. Pengumpulan data dilakukan tidak hanya untuk menilai individu siswa, tetapi juga memetakan kondisi satuan pendidikan secara menyeluruh, termasuk aspek literasi, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar.
Melalui pendekatan berbasis data dan kolaborasi ini, pemerintah menargetkan lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran dan berdampak langsung terhadap peningkatan mutu pembelajaran.
Ke depan, model kerja sama ini diharapkan dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah guna memperkuat ekosistem pendidikan nasional serta mendorong pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. (San)
























