Lawan Budaya ‘Scroll’, Reyda Hafis Sebut Buku di Warung Kopi Adalah Senjata Peradaban

Blitar, serayunusantara.com — Fenomena menjamurnya kedai kopi di Kota Blitar yang didominasi oleh aktivitas gawai (gadget) memicu keprihatinan dari kalangan pegiat literasi. Kamis (05/03/2026).

Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menegaskan bahwa setiap warung kopi di Bumi Bung Karno seharusnya memiliki koleksi buku sebagai upaya melawan “penjajahan” algoritma media sosial yang kian menggerus nalar kritis pemuda.

Menurut Reyda, warung kopi memiliki akar sejarah yang kuat sebagai tempat lahirnya pemikiran besar dan revolusi.

Namun, ia menyayangkan pergeseran fungsi kedai kopi saat ini yang cenderung hanya menjadi tempat pelarian dari sepi tanpa adanya substansi intelektual yang dihasilkan.

“Warung kopi hari ini sering kali hanya jadi tempat isi daya ponsel dan scroll media sosial tanpa arah. Kita butuh interupsi sehat di meja kopi, dan buku adalah jawabannya. Kafein itu bahan bakarnya, tapi buku adalah mesinnya. Tanpa bacaan, fokus yang dihasilkan kafein hanya akan terbuang percuma,” tegas Reyda.

Reyda menjelaskan bahwa kehadiran buku—meski hanya satu rak kecil di sudut ruangan—dapat mengubah atmosfer warung kopi menjadi “Universitas Rakyat” yang demokratis.

Baca Juga: Menjaga Api di Tengah Sepi, Lapak Baca Ceria Tegaskan Komitmen Rawat Nalar Kritis di Kota Blitar

Buku di atas meja kopi bukan sekadar pajangan, melainkan pemantik dialektika antar-pelanggan yang lebih bermutu daripada sekadar bergosip atau membahas isu tanpa dasar.

Lebih lanjut, ia mengajak para pemilik kedai kopi di Blitar, mulai dari wilayah Bendogerit hingga Sananwetan, untuk mulai berinvestasi pada kecerdasan pelanggannya dengan menyediakan bahan bacaan yang progresif.

“Jangan biarkan meja kopi hanya dipenuhi asap rokok dan layar persegi. Biarkan aroma kopi bersaing dengan wangi kertas. Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang sibuk scrolling sampai pagi, tapi oleh mereka yang berani membaca dan berdiskusi,” pungkasnya dengan lugas.

Melalui dorongan ini, Lapak Baca Ceria berharap ekosistem literasi di Blitar tidak hanya berhenti di perpustakaan formal, tetapi juga merambah ke ruang-ruang santai tempat anak muda berkumpul, guna merawat nalar kritis di tengah gempuran pragmatisme zaman. (Fin/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *