Menelisik Akar “Kota Kendang”: Menjaga Marwah Reog Kendang sebagai Identitas Abadi Tulungagung

Tulungagung, serayunusantara.com — Kabupaten Tulungagung tidak hanya tersohor karena industri marmernya yang mendunia. Di balik deru mesin pemotong batu, tersimpan denyut nadi kesenian yang begitu kental hingga melahirkan julukan ikonik bagi daerah ini, yakni “Kota Kendang”.

Predikat tersebut bukan tanpa alasan; Tulungagung merupakan rahim dari kesenian Reog Kendang, sebuah tarian kolosal unik yang menempatkan instrumen kendang sebagai ruh utama pertunjukannya. Selasa, (17/03/2026).

Berbeda dengan Reog Ponorogo yang menonjolkan topeng dadak merak yang megah, Reog Kendang Tulungagung menampilkan sekelompok penari pria yang membawa kendang dhondhong.

Keunikan ini terletak pada gerakan tari yang selaras dengan tabuhan kendang yang digendong oleh masing-masing penari, menciptakan harmoni visual dan auditif yang tidak ditemukan di daerah lain.

Budayawan lokal Tulungagung, Bambang (58), dalam sebuah wawancara mendalam menjelaskan bahwa Reog Kendang adalah kristalisasi sejarah dan filosofi masyarakat Bumi Marmer. Menurutnya, kesenian ini merupakan penggambaran dari kisah legendaris iring-iringan prajurit Kediri yang hendak melamar Putri Kilisuci.

Baca Juga: Mudik Nyaman Tanpa Waswas: Polres Tulungagung Sediakan Layanan Penitipan Kendaraan Gratis bagi Masyarakat

“Reog Kendang itu bukan sekadar tarian, tapi simbol ketangguhan dan kebersamaan. Setiap gerakan memiliki makna, mulai dari langkah kaki hingga cara menepuk kendang. Itulah mengapa Tulungagung sangat lekat dengan sebutan Kota Kendang,” ungkap Bambang di kediamannya, Selasa (17/03/2026).

Lebih lanjut, Bambang menekankan bahwa julukan “Kota Kendang” memiliki tanggung jawab moral yang besar bagi generasi muda.

Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang telah memasukkan Reog Kendang ke dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal, namun ia mengingatkan agar esensi kesenian ini jangan sampai tergerus oleh modernisasi yang berlebihan.

“Kita ingin dunia tahu bahwa saat mereka mendengar ritme kendang yang khas, mereka sedang mendengarkan jantung hati Tulungagung. Pelestarian tidak boleh berhenti pada seremoni saja, tapi harus menjadi gaya hidup masyarakat kita,” tambahnya dengan nada penuh harap.

Kini, Reog Kendang seringkali menjadi sajian utama dalam penyambutan tamu agung maupun festival budaya berskala internasional.

Keberadaannya telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kemendikbudristek, memperkuat posisi Tulungagung sebagai episentrum budaya kendang di tanah air. Dengan menjaga kesenian ini, Tulungagung memastikan bahwa identitas sebagai “Kota Kendang” akan terus bergema melintasi zaman. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed