Menelusuri Jejak Batin: Memaknai Pameran Kaligrafi “Ziarah Jiwa” di Blitar Art Center

Blitar, serayunusantara.com — Di balik riuhnya diskusi musik yang digelar di Blitar Art Center, Jumat (06/03/2026) malam, deretan karya kaligrafi bertajuk “Ziarah Jiwa” berdiri tegap menawarkan keheningan bagi siapa pun yang memandangnya.

Pameran ini bukan sekadar pameran rupa; ia adalah undangan bagi pengunjung untuk melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri, menelusuri lorong-lorong spiritualitas melalui goresan kuas yang penuh makna.

Kurator pameran menjelaskan bahwa pemilihan nama “Ziarah Jiwa” merujuk pada proses kreatif sang seniman yang memandang menulis kaligrafi sebagai bentuk ibadah dan kontemplasi.

Setiap tarikan garis—mulai dari yang tegas hingga yang meliuk lembut—mempresentasikan dinamika hidup manusia: ada saatnya teguh, ada saatnya berserah.

Pameran ini menampilkan berbagai gaya kaligrafi, mulai dari gaya klasik Tsuluts yang megah hingga gaya kontemporer yang lebih bebas dan ekspresif.

Warna-warna yang digunakan pun cenderung membumi, seperti cokelat tanah, keemasan, dan hitam pekat, yang semakin memperkuat kesan “ziarah” atau perjalanan pulang menuju asal-muasal.

Baca Juga: Simfoni Visual di Galeri Seni: Ngobrol Musik  dan Pameran Kaligrafi Pukau Publik Blitar Art Center

Bima, salah satu penikmat seni yang hadir, mengungkapkan bahwa pameran ini memberikan pengalaman ruang yang berbeda. Baginya, setiap karya seolah berbicara tentang kerinduan manusia pada Sang Pencipta.

“Melihat karya-karya di ‘Ziarah Jiwa’ ini seperti sedang diajak bicara lewat simbol. Di tengah obrolan musik yang seru malam ini, pameran ini jadi penyeimbang yang membuat kita merenung sejenak tentang sisi transenden dalam hidup,” ujar Bima sembari mengamati salah satu karya utama.

Makna “Ziarah Jiwa” juga terpancar dari tata letak galeri yang dibuat melingkar, seolah menggambarkan siklus hidup manusia yang berawal dan berakhir di satu titik.

Penempatan cahaya yang temaram namun fokus pada setiap kanvas menambah kesan sakral, membuat interaksi antara penonton dan karya menjadi sangat personal.

Melalui pameran ini, Blitar Art Center ingin menegaskan bahwa seni bukan hanya soal keindahan visual, tetapi juga soal kedalaman rasa.

“Ziarah Jiwa” menjadi bukti bahwa di tangan yang tepat, huruf-huruf suci bisa bertransformasi menjadi bahasa universal yang mampu menyentuh sisi paling dalam dari kemanusiaan kita. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed