Blitar, serayunusantara.com — Saat azan Magrib berkumandang, aroma gurih bumbu mie instan sering kali menjadi godaan yang sulit ditampik, terutama bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi atau para perantau.
Kepraktisan dan rasa yang “nendang” menjadikannya solusi cepat pengganjal lapar.
Namun, di balik kemudahan itu, para ahli kesehatan mewanti-wanti adanya dampak tersembunyi jika mie instan dijadikan menu utama saat perut dalam keadaan kosong setelah belasan jam berpuasa, Jumat (20/02/2026).
Mie instan secara medis tergolong makanan dengan indeks glikemik tinggi dan rendah serat.
Memasukkan karbohidrat sederhana dalam jumlah besar secara mendadak saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah secara drastis, yang kemudian diikuti dengan penurunan yang cepat, sehingga tubuh justru terasa lemas dan cepat lapar kembali.
Toha (28), seorang warga yang sempat berkonsultasi mengenai pola makannya selama Ramadan, membagikan pengalamannya.
Baca Juga: Wali Kota Vinanda Buka Puasa dengan DPRD, Tingkatkan Kerjasama untuk Kediri
“Dulu saya sering asal praktis, buka pakai mie pakai nasi pula. Tapi efeknya malah ngantuk berat pas tarawih. Kalau memang terpaksa sekali makan mie instan, jangan dimakan ‘polosan’. Tambahkan banyak sawi, telur, atau potongan daging ayam,” ungkapnya.
Para ahli gizi menekankan bahwa perut yang kosong selama puasa membutuhkan asupan yang lembut dan mudah dicerna terlebih dahulu.
Kandungan pengawet dan natrium yang tinggi pada bumbu mie instan dapat mengiritasi lambung yang sensitif, terutama bagi penderita maag atau asam lambung.
Oleh karena itu, menjadikan mie instan sebagai menu rutin berbuka sangat tidak disarankan.
Jika sesekali ingin menikmatinya, para ahli menyarankan untuk menetralkan dengan minum air putih yang cukup dan tetap mengawali berbuka dengan buah-buahan seperti kurma yang kaya akan serat alami.
Menjaga kesehatan selama bulan suci adalah bentuk ibadah tersendiri.
Memilih menu berbuka yang bernutrisi bukan berarti harus mahal atau rumit, melainkan tentang bagaimana kita memberikan hak yang pantas bagi tubuh setelah seharian berjuang menahan lapar dan dahaga. (Fis/Serayu)
























