Blitar, serayunusantara.com — Aroma sejarah tercium kuat di udara Kota Blitar malam tadi. Pemerintah Kota Blitar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sukses menyulap Taman Plaza Museum PETA menjadi panggung teater terbuka yang megah.
Sebuah pementasan drama kolosal digelar untuk mengenang kembali heroisme pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) melawan penjajahan Jepang, Sabtu (14/02/2026).
Pementasan yang dimulai tepat pukul 19.00 WIB ini bukan sekadar hiburan malam minggu biasa.
Melalui gerak teatrikal, dentuman efek suara, dan narasi yang emosional, para aktor berhasil membawa ingatan publik kembali ke peristiwa 14 Februari 1945.
Baca Juga: Denyut Malam Minggu di Jalan Merdeka: Kala Aspal Blitar “Bicara” dalam Padat Merayap
Pemilihan lokasi di area Museum PETA memberikan nuansa magis, seolah-olah arwah semangat Shodancho Supriyadi dan kawan-kawan kembali hadir di tengah masyarakat Blitar.
Nanang (52), seorang pemerhati budaya yang hadir di barisan depan, menilai langkah Pemkot Blitar ini sangat tepat untuk menjaga identitas kota.
“Blitar ini Bumi Bung Karno dan Bumi PETA. Drama kolosal seperti ini adalah cara terbaik mengajarkan sejarah kepada generasi muda tanpa rasa bosan,” ungkapnya dengan bangga.
Ia berharap, pementasan seperti ini harus rutin dilakukan, bahkan mungkin dibuat lebih megah lagi dengan melibatkan teknologi pemetaan cahaya (light mapping) pada monumennya, agar sejarah kita tetap terlihat keren di mata dunia. (Fis/Serayu)



















