Milenial Kabupaten Blitar Diajak Turut Serta Majukan Pertanian, Begini Caranya!

Anak muda yang bertani. (Foto: Istimewa)

Blitar, serayunusantara.com Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar mengajak generasi muda atau milenial untuk turut serta dalam membantu memajukan pertanian di Kabupaten Blitar.

“Jadi ajakan itu untuk terus menjaga kemandirian di Kabupaten Blitar sebagai daerah yang menjadi lumbung pangan nasional,” kata Kepala DKPP Kabupaten Blitar, Wawan Widianto mengatakan, Selasa (6/6/2022).

Menurut Wawan, anak-anak muda didorong untuk memunculkan inovasi yang bisa digunakan untuk memperbarui pertanian konvensional menjadi pertanian modern atau yang lebih maju.

“Contoh inovasi pada sistem pertanian yang bisa dilakukan oleh milenial, yakni dengan sistem urban farming dan digital farming,” ujarnya.

Baca Juga: Ajak Gunakan Pupuk Organik, DKPP Kabupaten Blitar: Tak Turunkan Hasil Produksi

Wawan menjelaskan, sistem urban farming sangat cocok untuk daerah perkotaan atau pemukiman penduduk. Sistem tersebut tidak memerlukan lahan yang luas seperti bertani konvensional di sawah di daerah pedesaan.

Sedangkan digital farming, kata Wawan, merupakan cara berbudidaya berbasis data, yakni dengan mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan berbagi data informasi elektronik di bidang pertanian secara digital.

“Dengan memilih salah satu dari sistem urban farming dan digital farming, petani milenial di Kabupaten Blitar bisa bertani dengan cara yang lebih mengasyikkan bagi mereka,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Wawan menjelaskan, dalam memasarkan hasil pertanian, milenial dinilai juga lebih mahir dalam mempromosikan secara digital dibandingkan generasi yang lebih tua.

“Maka, saya dorong anak-anak muda ini untuk bertani dengan cara yang lebih maju dan memasarkan hasil komoditi pertanian yang dipanen melalui teknologi informasi digital,” pungkasnya.

Sebagaimana terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS).  Proporsi pemuda yang bekerja di sektor pertanian terus menurun dalam satu dekade terakhir.  Pada 2011, tercatat ada 29,18% pemuda yang bekerja di sektor ini. Angkanya merosot menjadi sebesar 19,18% pada 2021.

Sebaliknya, proporsi pemuda yang bekerja di sektor jasa tercatat sebesar 55,8% pada tahun lalu. Persentase itu telah naik 9,87% dari tahun 2011 yang sebesar 45,93%. Sementara, proporsi pemuda yang bekerja di sektor manufaktur tercatat sebesar 25,02% pada 2021, tak berubah signifikan sejak 10 tahun lalu.

Baca Juga: Terbukti Punya Banyak Manfaat, Petani di Kabupaten Blitar Diajak Pakai Biosaka

Kendati, persentasenya tetap lebih tinggi dibandingkan pekerja di sektor pertanian. Rendahnya minat pemuda bekerja di sektor pertanian pun terlihat dari data jumlah petani berdasarkan kelompok usia.

Data BPS pada 2018 menunjukkan, hanya 885.077 petani yang berusia di bawah 25 tahun. Petani yang berusia 25-34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa. Kemudian, petani dalam kelompok usia 35-44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa.

Kelompok yang mendominasi profesi petani berada di rentang usia 45-54 tahun, yakni 9,19 juta jiwa. Adapun, petani dari kelompok usia 55-64 tahun dan di atas 65 tahun masing-masing sebanyak 6,95 juta jiwa dan 4,19 juta jiwa. (adv/jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *