Blitar Kota,serayunusantara.com-Menjelang waktu berbuka puasa, suasana sejumlah kafe di pusat Kota Blitar tampak lebih tenang dari biasanya. Pantauan pada Selasa, (24/2/2026) sekitar pukul 17.30 WIB menunjukkan beberapa meja masih kosong, sementara lalu lintas di sekitar kawasan pusat kota juga terlihat lengang. Cuaca mendung sore itu turut memberi nuansa teduh menjelang azan magrib.
Padahal, lokasi kafe-kafe tersebut berada tidak jauh dari Alun-Alun Kota Blitar serta kawasan Masjid Agung yang selama ini dikenal sebagai titik aktivitas warga.
Namun, berbeda dengan tiga hari pertama Ramadan yang bertepatan dengan pembukaan bazar takjil, suasana di pekan pertama ini cenderung kembali seperti hari biasa.
Salah satu pengelola kafe di kawasan tersebut menyebutkan bahwa keramaian menjelang berbuka hanya terjadi di awal-awal puasa.
“Biasanya hari pertama sampai ketiga cukup ramai, apalagi bersamaan dengan bazar takjil. Setelah itu kembali normal seperti hari biasa,” ujarnya.
Menurutnya, selama Ramadan pola kunjungan memang mengalami pergeseran waktu. Jika pada bulan-bulan biasa pengunjung mulai berdatangan sejak sore, kini sebagian besar pelanggan justru datang setelah pelaksanaan salat tarawih.
“Sekarang lebih banyak yang datang setelah tarawih. Menjelang buka malah relatif sepi,” tambahnya.
Meski terlihat lengang pada sore hari, ia menegaskan tidak ada penurunan signifikan dalam jumlah transaksi dibandingkan hari biasa di luar Ramadan.
Pesanan melalui layanan daring justru cukup stabil dan dalam beberapa kesempatan lebih dominan dibanding pelanggan yang datang langsung.
“Order online tetap ada dan rata-rata stabil. Tidak ada perubahan signifikan dibanding non-Ramadan. Kecuali malam Minggu memang biasanya lebih ramai,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas usaha tidak sepenuhnya menurun, melainkan menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat selama bulan puasa.
Risky, salahsatu pengunjung kafe mengaku sengaja datang menjelang waktu berbuka karena suasana yang lebih tenang.
Menurutnya, kondisi yang tidak terlalu ramai justru menjadi keuntungan tersendiri.
“Memang lebih sepi, tapi justru enak. Tidak perlu berdesakan dan lebih nyaman,” ujarnya.
Ia juga menilai suasana Ramadan tahun ini tidak jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika terasa lebih lengang, menurutnya hal itu bisa dipengaruhi faktor cuaca.
“Tahun ini sepertinya tidak jauh berbeda. Lebih sepi iya, tapi biasanya kalau malam hujan juga berpengaruh,” tambahnya.
Pengamatan tersebut memperlihatkan bahwa Ramadan menghadirkan penyesuaian ritme di pusat kota.
Aktivitas sore hari yang biasanya menjadi waktu berkumpul di ruang-ruang komersial kini bergeser ke malam hari.
Sebagian masyarakat memilih berbuka puasa di rumah, sementara pertemuan bersama teman atau keluarga dilakukan setelah ibadah tarawih.
Selain itu, kemudahan layanan pesan antar turut memengaruhi pola konsumsi. Pelanggan tidak harus datang langsung untuk menikmati menu yang tersedia.
Digitalisasi layanan menjadi salah satu faktor yang membuat transaksi tetap berjalan meski jumlah pengunjung fisik terlihat berkurang.
Fenomena ini juga menegaskan bahwa kondisi lengang pada satu waktu tertentu tidak selalu mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Dalam konteks Ramadan, masyarakat cenderung mengatur ulang jadwal kegiatan, termasuk waktu berkumpul dan berbelanja.
Di pekan pertama Ramadan ini, kawasan pusat Kota Blitar memang tampak lebih tenang menjelang senja. Namun ketenangan tersebut bukan berarti aktivitas berhenti. Ia hanya bergeser mengikuti kebiasaan dan kebutuhan warga.
Ramadan, pada akhirnya, tidak sekadar menghadirkan perubahan suasana, tetapi juga menggeser denyut kota—dari senja menuju malam hari. (san)























