Blitar, serayunusantara.com — Langit yang mendadak legam dan rintik air yang turun tanpa permisi sering kali menjadi mimpi buruk bagi para pengendara motor di jalanan Blitar.
Di tengah situasi darurat tersebut, muncullah sosok penyelamat yang bersahaja namun tak terbantahkan fungsinya: mantel plastik tipis atau yang sering disebut “jas hujan sekali pakai”.
Meski kerap dipandang sebelah mata karena bahannya yang ringkih, benda seharga lima ribu rupiah ini tetap menjadi komoditas paling dicari saat musim hujan menyerang secara tiba-tiba, Rabu (18/02/2026).
Kepraktisan menjadi alasan utama mengapa mantel plastik ini tetap eksis di tengah gempuran jas hujan bermerek yang mahal.
Ukurannya yang ringkas—bisa diselipkan di saku jaket atau bagasi motor yang penuh—menjadikannya solusi instan bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi.
Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam, cukup dengan uang receh, seseorang sudah bisa melanjutkan perjalanan tanpa harus basah kuyup hingga ke tulang.
Baca Juga: Diterjang Hujan Deras dan Angin Kencang, Belasan Rumah di Pasuruan Alami Kerusakan
Irsyad (34), seorang tukang ojek pangkalan yang selalu sedia stok mantel plastik di bagasi motornya, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan pelindung murah ini.
“Mantel plastik ini ibarat ban serep. Memang tidak untuk dipakai selamanya, tapi dalam kondisi darurat, dia adalah pahlawan. Tips dari saya, kalau pakai mantel jenis ini, pastikan ikat bagian leher dengan pas dan jangan dibawa berkendara terlalu kencang,” ujarnya.
Namun, di balik kegunaannya, tantangan lingkungan tetap membayangi. Karena sifatnya yang mudah rusak, mantel ini sering kali berakhir di tempat sampah setelah sekali atau dua kali pakai.
Oleh karena itu, kesadaran warga untuk tidak membuang sembarangan bekas mantel plastik di saluran air menjadi sangat krusial, terutama di tengah puncak musim hujan agar tidak memicu penyumbatan drainase kota. (Fis/Serayu)
























