Blitar, serayunusantara.com — Menolak lupa pada sejarah besar bangsa, Lapak Baca Ceria berkolaborasi dengan jajaran komunitas literasi di Blitar menggelar agenda spesial untuk mengenang 77 tahun dieksekusinya Tan Malaka.
Bertempat di Kedai Kopi Kalpas, acara yang digelar pada Sabtu (21/02/2026) ini menjadi ruang dialektika bagi generasi muda untuk menyelami kembali pemikiran revolusioner sang “Arsitek Republik”, Minggu (22/02/2026).
Agenda ini tidak sekadar menjadi ajang kumpul komunitas, melainkan sebuah forum ilmiah yang membedah tiga karya paling berpengaruh milik Tan Malaka: Naar de Republiek Indonesia, Semangat Muda, dan Aksi Massa.
Ketiga buku tersebut dipilih karena dianggap sebagai fondasi kuat bagi arah kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.
Kolaborasi ini diharapkan mampu merawat semangat literasi di Blitar, sekaligus mengenalkan kembali ideologi Tan Malaka yang sempat “dipinggirkan” dalam narasi sejarah arus utama kepada anak muda masa kini.
Reyda Hafis, selaku Simpatisan Lapak Baca Ceria yang menjadi pembicara dalam forum tersebut, memberikan apresiasi atas antusiasme peserta yang memadati lokasi.
Baca Juga: Perpaduan Kopi dan Literasi: Kedai Satu Rasa Blitar Gandeng Lapak Baca Ceria Hadirkan Sudut Baca
“Saat membedah buku-buku ini, jangan hanya terpaku pada teks sejarahnya saja, tapi lihatlah bagaimana logika Tan Malaka tentang kemandirian bangsa masih sangat relevan dengan kondisi ekonomi dan sosial kita saat ini,” ungkapnya di sela-sela diskusi.
Sepanjang acara, para pemantik diskusi menguraikan bagaimana buku Naar de Republiek Indonesia (1925) menjadi konsep pertama tentang negara Republik Indonesia, jauh sebelum tokoh lain menyuarakannya.
Sementara itu, Semangat Muda dan Aksi Massa dikupas sebagai panduan strategis bagi rakyat dalam melakukan perubahan sosial yang terorganisir, bukan sekadar pemberontakan buta.
Diskusi yang berlangsung hangat hingga malam hari ini membuktikan bahwa pemikiran Tan Malaka tetap hidup dan melintasi zaman.
Melalui sinergi antar komunitas literasi ini, Blitar kembali menunjukkan perannya sebagai kota yang aktif memproduksi pemikiran kritis melalui ruang-ruang diskusi alternatif. (Fin/Serayu)

























