Serangan Israel-AS ke Iran Ungkap Transfer Teknologi Nuklir dan Persaingan Satelit Beijing-Moskow

Jakarta, serayunusantara.com – Insiden serangan udara gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu membuka tabir baru dalam persaingan teknologi global.

Serangan ini tidak lagi sekadar soal wilayah, melainkan target strategis terhadap pusat-pusat pengembangan teknologi nuklir dan sistem pertahanan udara Iran yang selama ini disokong penuh oleh China dan Rusia.

Eskalasi ini memicu sorotan tajam terhadap efektivitas transfer teknologi militer dari Timur ke Teheran. Sejak isolasi Barat pada tahun 1979, Iran secara konsisten beralih ke poros Beijing dan Moskow untuk membangun infrastruktur energinya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr.

Baca Juga: Arab Saudi Usir Atase Militer Iran dan Siapkan Respons Militer Terukur

Profesor Emeritus dari Université Catholique Louvain, Belgia, Bichara Khader, menilai bahwa Iran telah berhasil membangun “benteng teknologi” melalui kemitraan strategis yang dimulai sejak 1990-an.

“Pada saat itulah Iran beralih ke China dan Rusia yang bersedia mengambil peran yang ditinggalkan negara-negara Barat,” ungkap Khader. Kontrak pembangunan PLTN Bushehr dengan Rusia pada 1999 dan transfer teknologi nuklir dari China menjadi fondasi utama kekuatan energi Iran saat ini.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran di Tengah Bara Perang, Donald Trump Beri Peringatan Keras

Kebijakan ekstrateritorial Washington yang menjatuhkan sanksi bagi perusahaan yang berinvestasi di sektor energi Iran ternyata menjadi “pedang bermata dua”. Alih-alih melumpuhkan Teheran, kebijakan ini justru memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara Eropa.

Banyak perusahaan teknologi dan energi asal Eropa merasa kedaulatan bisnis mereka terganggu karena dilarang menjalin kemitraan dengan Iran. Hal ini menciptakan celah bagi perusahaan-perusahaan teknologi dari China untuk mendominasi pasar infrastruktur di kawasan Timur Tengah tanpa pesaing dari Barat.

Bagi Israel, kemajuan teknologi nuklir Iran adalah ancaman eksistensial yang tidak bisa dinegosiasikan. Ancaman penghancuran fasilitas nuklir yang kerap dilontarkan Tel Aviv kini mulai diwujudkan melalui serangan presisi tinggi yang didukung oleh intelijen satelit Amerika Serikat.

Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai melirik kerja sama teknologi keamanan dengan Israel (melalui jalur normalisasi) sebagai upaya mengimbangi kecanggihan sistem persenjataan Iran yang dikembangkan bersama Rusia. (Ko/serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *