Tulungagung, serayunusantara.com – Upaya panjang SMP Negeri 2 Bandung dalam menanamkan nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah berbuah hasil membanggakan.
Pada tahun 2025, sekolah ini ditetapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu sekolah percontohan (piloting project) untuk Program Pendidikan Agama Islam (PAIS) Berkarakter.
Kepercayaan tersebut bukan datang secara tiba-tiba. SMPN 2 Bandung dinilai konsisten mengembangkan budaya religius di lingkungan sekolah melalui pembiasaan ibadah, pembentukan karakter, serta suasana belajar yang menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab.
Kepala SMPN 2 Bandung, Edi Purwanto, mengungkapkan bahwa predikat ini menjadi momentum penting bagi seluruh warga sekolah untuk terus memperkuat nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan.
“Program ini bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, tetapi bagaimana nilai-nilai Islam menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari siswa baik di sekolah maupun di rumah,” tuturnya kepada serayunusantara, Kamis (16/10/2025)
Baca Juga: PKK Kecamatan Binangun Dorong Optimalisasi Kinerja Desa dalam Penanganan Anak Tidak Sekolah
Edi menambahkan, sekolahnya telah lama menerapkan sejumlah kegiatan yang sejalan dengan semangat PAIS Berkarakter, mulai dari pembiasaan membaca Al-Qur’an sebelum pelajaran dimulai, sholat dhuha berjamaah, hingga kewajiban bagi seluruh siswa untuk mengenakan busana muslim sebagai identitas sekolah.
Program PAIS Berkarakter di SMPN 2 Bandung difokuskan pada penguatan lima nilai utama: akhlakul karimah, kedisiplinan ibadah, kecintaan terhadap Al-Qur’an, sikap ramah dan moderat, serta pembentukan kepribadian bertanggung jawab.
Menurut Edi, nilai-nilai tersebut bukan hanya dijadikan slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembelajaran dan kegiatan sehari-hari.
“Kami ingin menciptakan suasana sekolah yang bukan sekadar tempat menimba ilmu, tapi juga tempat tumbuhnya karakter Islami yang membentuk pribadi yang utuh,” katanya.
Dengan status baru sebagai sekolah percontohan, SMPN 2 Bandung kini menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam mengembangkan model pendidikan agama yang menyenangkan, moderat, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Edi berharap, keberhasilan ini dapat memberi dampak lebih luas bagi dunia pendidikan di Tulungagung.
“Kami ingin menjadi contoh bahwa pendidikan karakter tidak harus diajarkan secara kaku, tetapi bisa ditanamkan lewat keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang positif,” pungkasnya. (Jun)













