Blitar, serayunusantara.com – Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Blitar. Berdasarkan data yang ada, jumlah ATS di wilayah tersebut masih mencapai ribuan dan belum sepenuhnya tertangani.
Menyikapi kondisi itu, PKBM Bhakti Nusantara mengambil peran dengan menghadirkan solusi alternatif melalui pendidikan nonformal dan pelatihan keterampilan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar pelatihan digital marketing pada 19 November 2025 lalu. Kegiatan ini ditujukan bagi kelompok ATS sebagai bekal keterampilan di era digital sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi.
Kepala PKBM Bhakti Nusantara, Anwar Nuris, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi menjawab tantangan digitalisasi yang tidak bisa dihindari.
“Saat ini kita sudah masuk era digitalisasi. Siapa yang tidak mengikuti perkembangan, pasti akan tertinggal. Karena itu, bagi mereka yang tergolong ATS kami berikan solusi alternatif, baik melalui penyetaraan ijazah maupun dari sisi vokasinya,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Motor Oleng dan Tabrak Pembatas, Pengendara Kawasaki Ninja Tewas di JLS Blitar
Anwar berharap langkah tersebut dapat membantu Pemerintah Kabupaten Blitar dalam menekan angka ATS. Ia menyebut, pelatihan diikuti sekitar 40 peserta setiap sesi dan dilaksanakan dalam empat kali pertemuan.
“Total ada empat sesi pelatihan, masing-masing diikuti sekitar 40 peserta. Harapannya, ini bisa menjadi kontribusi nyata dalam penanganan ATS di Kabupaten Blitar,” terangnya.
Sementara itu, M. Nazihur, pegiat media sosial yang juga menjadi narasumber dalam pelatihan tersebut, menyambut positif inisiatif PKBM Bhakti Nusantara. Menurutnya, digital marketing merupakan kebutuhan dasar di tengah persaingan pasar bebas saat ini.
“Digital marketing sangat dibutuhkan di era sekarang. Pasar bebas menuntut kemampuan adaptasi agar seseorang bisa bersaing,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan pendekatan aplikatif dalam pelatihan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu langsung menerapkannya.
“Pelatihan sebaiknya berkelanjutan dan lebih mengarah ke praktik, supaya benar-benar terasa manfaatnya bagi peserta,” pungkasnya. (ke/ha)













