Blitar, serayunusantara.com — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di berbagai daerah masih melestarikan tradisi Megengan sebagai bentuk rasa syukur dan persiapan batin.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Jawa. Senin, (26/01/2026).
Megengan biasanya dilakukan dengan menggelar doa bersama dan kenduri sederhana yang melibatkan keluarga, tetangga, hingga warga sekitar.
Hidangan khas seperti apem, nasi berkat, dan jajanan tradisional lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini, yang kemudian dibagikan sebagai simbol berbagi dan mempererat tali silaturahmi.
Selain sebagai bentuk ungkapan syukur, Megengan juga dimaknai sebagai sarana memohon ampunan dan keberkahan menjelang Ramadhan.
Baca Juga: Sambut Awal Tahun di Lamongan: Menyatukan Doa Lintas Agama dan Melestarikan Tradisi
Melalui doa dan kebersamaan, masyarakat berharap dapat memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih serta kesiapan spiritual yang lebih matang.
Menurut salah satu tokoh masyarakat, tradisi Megengan mengandung nilai-nilai luhur yang relevan hingga kini.
“Megengan bukan sekadar tradisi, tetapi sarana untuk memperkuat kebersamaan, saling mendoakan, dan mengingatkan pentingnya persiapan lahir dan batin sebelum Ramadhan,” tuturnya.
Di tengah arus modernisasi, tradisi Megengan tetap dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai wujud pelestarian budaya sekaligus pengamalan nilai-nilai keislaman.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan ajaran agama dan terus relevan dalam kehidupan bermasyarakat. (Fis/Serayu)









