Blitar, serayunusantara.com – Sebut saja Bunga (23), janda asal Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, tak henti-henti menangis saat diwawancarai serayunusantara.com seraya menuturkan keterpaksaannya menjadi seorang pemandu lagu atau LC di sebuah tempat karaoke di Kota Blitar.
Ia mengaku, keputusan itu bukanlah pilihan hidup yang ia cita-citakan, melainkan jalan terakhir demi menyambung hidup.
Dengan suara bergetar, Bunga menceritakan bahwa sejak ditinggal suaminya dua tahun lalu, beban ekonomi keluarga sepenuhnya berada di pundaknya.
Dua anaknya yang kini duduk di bangku sekolah dasar membutuhkan biaya pendidikan, mulai dari seragam, buku, hingga uang saku harian. Di sisi lain, kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia juga bergantung padanya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau bukan saya yang kerja, anak-anak mau makan apa?” ujarnya lirih sambil menyeka air mata disebuah kos di Kota Blitar saat diwawancarai, Kamis (19/2/2026).
Sebelum bekerja di dunia hiburan malam, Bunga sempat mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah menjadi buruh cuci dan bekerja di warung makan dengan penghasilan yang tak menentu.
Baca Juga: Soroti Dugaan Penyusutan Anggaran MBG di Blitar, Ketua LSM Laskar Kritik SPPG dan Keterlibatan Polri
Namun, pendapatan yang diterima tak mampu menutup kebutuhan keluarga yang kian meningkat. Hingga akhirnya, melalui seorang teman, ia ditawari bekerja sebagai LC di salah satu tempat karaoke di Kota Blitar.
Dunia malam yang kerap dipandang negatif oleh masyarakat, menurut Bunga, tak selalu seperti yang dibayangkan. Ia mengaku berusaha menjaga diri dan membatasi pergaulan sebisa mungkin. Baginya, pekerjaan tersebut hanyalah cara untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak dalam waktu singkat.
Fenomena perempuan muda yang terjun ke dunia hiburan malam karena faktor ekonomi bukanlah hal baru. Di berbagai daerah, termasuk di wilayah sekitar Blitar, tekanan ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan kerap menjadi alasan utama. Terlebih pascapandemi beberapa tahun lalu, banyak sektor informal yang belum sepenuhnya pulih.
Bunga berharap suatu hari nanti ia bisa meninggalkan pekerjaan tersebut dan membuka usaha kecil di kampung halamannya. Ia bercita-cita memiliki warung sembako agar dapat bekerja lebih dekat dengan anak-anaknya. “Saya ingin anak-anak sekolah tinggi, jangan seperti saya,” tuturnya penuh harap.
Kisah Bunga menjadi potret nyata kerasnya perjuangan seorang ibu muda menghadapi realitas hidup. Di balik gemerlap lampu karaoke dan dentuman musik malam, tersimpan cerita-cerita tentang keterpaksaan, tanggung jawab, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. (Jun)


















