Teheran, serayunusantara.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Iran mengajak warganya, khususnya kalangan muda, untuk melakukan aksi simbolis berupa pembentukan rantai manusia guna melindungi fasilitas penting negara.
Seruan tersebut disampaikan menjelang tenggat waktu ultimatum yang diberikan Trump kepada Teheran untuk menyepakati gencatan senjata. Jika tuntutan tidak dipenuhi, Iran terancam menghadapi serangan besar-besaran.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Ancaman Kenaikan Harga Energi Bayangi Ekonomi Indonesia
Selain itu, Trump juga meminta Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir serta membuka kembali akses Selat Hormuz.
Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran mengajak para pemuda, termasuk mahasiswa, atlet, dan seniman, untuk berkumpul di sekitar pembangkit listrik utama mulai Selasa 7/4/2026 pukul 14.00 waktu setempat. Aksi ini dijadwalkan berlangsung beberapa jam sebelum batas waktu ultimatum yang ditetapkan pihak AS.
Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berasal dari kalangan pemuda sendiri sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan negara. “Aksi ini (rantai manusia) dibentuk atas saran para pemuda sendiri,” kata Rahimi dalam pesan video.
Ia menambahkan, partisipasi lintas komunitas menjadi kekuatan utama dalam gerakan ini. “Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi-organisasi pemuda mengusulkan agar kita membentuk lingkaran manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik milik negara,” ujarnya.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah dan Ketahanan Energi: Ancaman Nyata bagi Transisi Iklim Global
Rahimi menegaskan bahwa aksi ini bersifat simbolis dan mencerminkan komitmen generasi muda dalam menjaga infrastruktur nasional. “Aksi simbolis ini disebut ’Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan yang Cerah,” cetusnya.
Ia berharap keterlibatan luas masyarakat, khususnya pemuda, dapat menunjukkan solidaritas nasional di tengah situasi yang semakin tegang.
“Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negara ini, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit-pembangkit listrik, dan hal itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah,” ucap Rahimi.
Situasi ini menunjukkan meningkatnya tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama terkait isu nuklir dan jalur strategis perdagangan energi global seperti Selat Hormuz. Ketegangan ini berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia.
Dengan meningkatnya ancaman dan respons simbolis dari Iran, dunia internasional kini menyoroti perkembangan konflik ini, yang dikhawatirkan dapat memicu eskalasi lebih besar jika tidak segera menemukan titik penyelesaian diplomatik. (San)

























