Sidoarjo, serayunusantara.com – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur mengambil langkah responsif dengan menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) selama 24 jam penuh.
Langkah ini dilakukan guna memantau kondisi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah seiring meningkatnya eskalasi konflik di wilayah tersebut, sekaligus menyambut lonjakan kepulangan PMI menjelang Idulfitri 1447 H.
Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, menjelaskan bahwa pihaknya terus menjalin koordinasi intensif dengan kementerian terkait untuk menyiapkan skema evakuasi darurat jika situasi memburuk.
Saat ini, BP3MI juga tengah mendalami laporan mengenai lima PMI asal Situbondo guna memastikan keamanan dan prosedur penempatan mereka.
“Personel kami siagakan di bandara untuk pendataan sekaligus mengantisipasi kemungkinan evakuasi. Fasilitas seperti tim medis, ambulans, hingga lounge khusus juga telah disiapkan di Bandara Juanda bagi PMI yang tiba,” ujar Gimbar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2026).
Selain fokus pada dinamika di Timur Tengah, BP3MI memprediksi akan terjadi peningkatan signifikan jumlah PMI yang pulang ke tanah air. Pada periode H-5 hingga H+5 Lebaran, diperkirakan akan ada 100 hingga 120 PMI yang mendarat setiap harinya di Jawa Timur.
Gimbar mengingatkan para pekerja yang pulang dalam rangka cuti lebaran untuk tetap melapor dan memastikan dokumen serta asuransi mereka tetap aktif. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kendala administratif saat mereka kembali bekerja ke luar negeri nantinya.
Sebagai informasi, terdapat sekitar 7.000 PMI asal Jawa Timur yang saat ini mengadu nasib di Timur Tengah, dengan mayoritas berada di Arab Saudi.
Sinergi perlindungan juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) dengan membuka Posko Pelayanan Kepulangan PMI di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.
Kepala UPT Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (P2TK) Jatim, Astrid, menjelaskan bahwa posko tersebut beroperasi 24 jam untuk memberikan pendampingan, mulai dari pendataan hingga penanganan medis bagi PMI yang sakit.
Fasilitas yang disediakan meliputi layanan telepon darurat, takjil gratis, hingga shelter transit bagi mereka yang belum dijemput keluarga.
“Momentum Lebaran memiliki intensitas kepulangan yang tinggi. Kami memastikan setiap PMI yang kembali ke Jawa Timur mendapatkan perlindungan menyeluruh,” tegas Astrid. (Ko)



















