Blitar, serayunusantara.com – Di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, sebagian masyarakat di wilayah Blitar masih memegang teguh kearifan lokal sebagai upaya spiritual menghadapi fenomena alam. Salah satunya adalah ritual tradisional menancapkan bawang merah (brambang) dan cabai (lombok) pada ujung sapu lidi yang diletakkan terbalik untuk menangkal turunnya hujan deras.
Pemandangan unik ini terpantau di salah satu sudut permukiman warga pada Selasa (17/2/2026). Ritual yang dikenal sebagai warisan leluhur ini biasanya dilakukan saat masyarakat memiliki hajatan besar atau kepentingan mendesak agar cuaca tetap cerah selama kegiatan berlangsung.
Bimantara, seorang warga Blitar yang masih mempraktikkan tradisi ini, menjelaskan bahwa metode tersebut merupakan bentuk ikhtiar batiniah yang dilakukan secara turun-temurun. Menurutnya, setiap elemen dalam ritual tersebut memiliki makna simbolis dalam filosofi Jawa.
“Ini adalah tradisi lama untuk mengantisipasi turunnya hujan. Sapu lidi dibalik, lalu di ujungnya ditusukkan bawang merah dan cabai. Bagi kami, ini adalah simbol permohonan agar mendung segera bergeser dan cuaca menjadi stabil,” ujar Bimantara saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Meskipun zaman telah memasuki era modern dengan teknologi ramalan cuaca yang canggih, Bimantara menambahkan bahwa banyak warga yang merasa lebih tenang secara psikologis ketika menjalankan tradisi ini. Ritual tersebut dipandang sebagai bagian dari kekayaan budaya yang tetap harus dihormati tanpa mengesampingkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tetap yang utama adalah doa, namun ritual seperti ini menjadi sarana penguat keyakinan bagi kami masyarakat Jawa,” tambahnya. (Fin/Fis)
























