Blitar, serayunusantara.com — Menjelang musim perkemahan di awal tahun 2026, keterampilan menyalakan api unggun kembali menjadi materi penting bagi para penggiat alam bebas.
Membuat api unggun yang sempurna bukan sekadar menumpuk kayu dan membakarnya, melainkan memerlukan teknik penyusunan agar api dapat menyala stabil, tahan lama, dan tetap aman bagi lingkungan sekitar, Kamis (15/01/2026).
Langkah pertama yang krusial adalah menyiapkan lokasi yang bersih dari material mudah terbakar dan membuat batas lingkaran menggunakan batu.
Teknik penyusunan yang paling populer adalah model “Piramida” atau “Log Cabin”.
Model Piramida sangat efektif untuk memulai api karena sirkulasi udaranya yang baik, sedangkan model Log Cabin (seperti menyusun balok rumah) lebih unggul untuk mempertahankan panas dalam waktu lama.
Pastikan menggunakan kayu kering dan meletakkan bahan penyulut (tinder) di bagian tengah bawah.
Baca Juga: Gitar dan Api Unggun, Penawar Pelepasan Penat di Pelukan Alam Blitar
Slamet (45), seorang pembina pramuka senior di Blitar, memberikan panduan praktis mengenai keamanan api unggun.
Menurutnya, menyusun api unggun itu seni mengatur oksigen. Jangan terlalu rapat menyusun kayunya supaya api bisa bernapas. Tips penting lainnya, selalu siapkan air atau pasir di dekat lokasi sebagai antisipasi.
“Sebelum meninggalkan tempat, pastikan api benar-benar padam sampai abunya dingin. Jangan sampai kegembiraan kita berkemah justru meninggalkan bencana kebakaran hutan,” tegas Slamet di sela-sela kegiatannya.
Pemahaman mengenai jenis kayu yang digunakan juga memengaruhi kualitas bara yang dihasilkan. Kayu keras biasanya bertahan lebih lama dibandingkan kayu lunak atau ranting kecil.
Dengan teknik penyusunan yang benar, api unggun akan menjadi pusat kehangatan dan keakraban yang mempererat tali persaudaraan antar peserta kegiatan di bawah langit malam. (Fis/Serayu)























