Trenggalek, serayunusantara.com — Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, kembali berubah menjadi lautan manusia saat merayakan tradisi “Kupatan” massal, Sabtu (28/03/2026).
Tradisi unik yang digelar tepat seminggu setelah Hari Raya Idulfitri 1447 H ini mewajibkan setiap warga setempat untuk menyajikan hidangan ketupat secara cuma-cuma kepada siapa pun tamu yang datang berkunjung.
Berbeda dengan silaturahmi lebaran pada umumnya, Kupatan di Durenan memiliki aturan tak tertulis yang dijunjung tinggi: setiap rumah adalah tempat bertamu yang terbuka bagi publik.
Tanpa memandang status sosial atau hubungan kekerabatan, setiap tamu yang melintasi ambang pintu akan langsung disuguhi sepiring ketupat hangat lengkap dengan sayur lodeh atau sayur tewel (nangka muda) yang menjadi pendamping wajib.
Tradisi ini bukan sekadar ajang makan bersama, melainkan simbol keikhlasan dan upaya mempererat tali persaudaraan. Aroma gurih santan dan janur kelapa memenuhi gang-gang desa, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang sangat kental di sepanjang wilayah Durenan.
Kemeriahan ini menarik minat warga dari luar kecamatan, bahkan luar kabupaten, untuk merasakan langsung keramahan warga Durenan. Salah satunya adalah Nanda Saniyaroh (23), warga Watulimo, Trenggalek, yang sengaja datang untuk mengikuti ritual makan ketupat lintas rumah ini.
Baca Juga: Menjemput Bahagia di Sudut Alun-Alun: Menjelajahi Surga Kecil UMKM Kebanggaan Trenggalek
“Rasanya luar biasa, benar-benar terasa kebersamaannya. Di sini kita tidak perlu merasa sungkan, karena warga sangat ramah dan seolah mewajibkan tamu untuk makan. Tadi saya mencoba ketupat dengan sayur tewel, rasanya sangat khas dan otentik, berbeda kalau makan di tempat lain,” ungkap Nanda Saniyaroh.
Nanda menambahkan bahwa tradisi ini menjadi momentum refleksi bagi anak muda untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur di tengah arus modernisasi.
“Bagi saya yang jauh dari Watulimo, datang ke sini bukan cuma buat kenyang, tapi belajar soal cara menghargai tamu. Semoga tradisi di Durenan ini tidak pernah luntur karena ini adalah identitas kita sebagai orang Trenggalek,” imbuhnya.
Hingga sore hari, arus kendaraan yang masuk ke wilayah Durenan terpantau padat merayap. Meski demikian, semangat warga dalam melayani tamu tidak surut.
Tradisi Kupatan Durenan tetap berdiri kokoh sebagai salah satu warisan budaya takbenda yang paling dinanti, membuktikan bahwa sepotong ketupat mampu menjadi jembatan silaturahmi yang tak ternilai harganya. (Fis/Serayu)
























