Blitar, serayunusantara.com – Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Blitar, terdapat sebuah situs yang hingga kini masih menjadi pusat perhatian bagi para pencari jejak spiritual maupun wisatawan sejarah, yakni Makam Gantung.
Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi Raden Ngabehi Bawadiman Joyodigo, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Eyang Joyodigo.
Nama “Makam Gantung” sendiri lahir dari sebuah mitos kuat yang mengakar di masyarakat Blitar. Konon, peti jenazah Eyang Joyodigo tidak diletakkan menyentuh tanah, melainkan digantung atau diletakkan di atas permukaan bumi menggunakan penyangga khusus.
Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan bahwa beliau merupakan pemilik Ilmu Pancasona, sebuah ajian kanuragan tingkat tinggi yang membuatnya tidak dapat mati selama jasadnya masih menyentuh tanah.
Antara Sejarah dan Kesaktian
Eyang Joyodigo dikenal sebagai sosok pejuang dan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang kemudian menetap di Blitar. Selain jasanya dalam mempertahankan kedaulatan, kisah mengenai Ilmu Pancasona miliknya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas makam tersebut.
Masyarakat meyakini bahwa pemilik ilmu ini memiliki kemampuan regenerasi sel yang luar biasa, sehingga jasadnya dianggap tetap “hidup” secara spiritual jika berada di atas tanah.
Baca Juga: Sinergi Seni dan Kepedulian, Seniman Blitar Raya Gelar Aksi Sosial dan Santunan di Alun-Alun Kota
Makam yang terletak di Jalan Teuku Umar ini sering kali dikunjungi oleh peziarah dari luar daerah, terutama pada malam-malam tertentu yang dianggap sakral.
Selain untuk berdoa, banyak pengunjung yang datang untuk merasakan langsung atmosfer mistis dan ketenangan yang menyelimuti area pemakaman tersebut.
Ikon Wisata Religi dan Budaya
Pemerintah Kota Blitar terus menjaga keberadaan makam ini sebagai salah satu destinasi wisata religi dan sejarah. Keberadaan Makam Gantung menjadi pengingat akan kekayaan tradisi luhur dan ilmu kejawen yang pernah berjaya di masa lampau.
“Bagi warga Blitar, Makam Gantung bukan sekadar tempat angker, melainkan simbol kekuatan karakter seorang tokoh besar. Ini adalah warisan budaya yang harus kita jaga narasinya agar tidak hilang ditelan zaman,” tambah sang kuncen.
Hingga saat ini, Makam Gantung tetap berdiri kokoh sebagai salah satu bukti bahwa di balik modernitas Kota Blitar, masih terdapat sisi-sisi magis yang senantiasa menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan sejarah yang tak kasatmata. (Ko)






















