Teheran, serayunusantara.com – Republik Islam Iran secara resmi memasuki era kepemimpinan baru di tengah situasi keamanan yang paling kritis dalam sejarah modernnya.
Majelis Ahli (Assembly of Experts) dan komando tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) baru Iran pada Minggu, 8 Maret 2026.
Penunjukan figur berusia 56 tahun ini dilakukan untuk mengisi kekosongan kekuasaan setelah sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah berkuasa sejak 1989, tewas dalam fase awal operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang bertajuk ‘Epic Fury’.
Baca Juga: Perang AS dan Israel Lawan Iran Kini Meluas ke Kawasan Teluk
Mojtaba, yang dikenal sebagai sosok garis keras dengan hubungan sangat erat ke IRGC, kini memikul tanggung jawab memimpin negara tersebut di tengah kecamuk perang regional yang semakin meluas.
Transisi kekuasaan yang bersifat turun-temurun ini memicu gelombang reaksi keras, terutama dari blok Barat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ketidaksenangannya atas penunjukan Mojtaba yang dianggap sebagai perpanjangan tangan kebijakan ayahnya.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media internasional, Trump memberikan peringatan yang sangat tajam terkait masa depan pemimpin baru Teheran tersebut.
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” tegas Donald Trump sebagaimana dikutip dari laporan ABC News via MUFG Research.
Selain itu, pihak Gedung Putih meremehkan Mojtaba dengan menyebutnya sebagai pemimpin yang “ringan” (lightweight) dan menganggap penunjukannya sebagai sebuah “kesalahan besar”.
Baca: Konflik Iran-Israel: Bandara Menjadi Target dan Ruang Udara Regional dalam Risiko Tinggi
Senada dengan AS, pihak Israel melontarkan kecaman pedas dengan menjuluki Mojtaba sebagai seorang “tiran dengan tangan yang berlumuran darah”.
Di sisi lain, pengukuhan Mojtaba mendapat sambutan positif dari sekutu strategis Iran. Rusia dan China menunjukkan sikap mendukung dengan menekankan prinsip kedaulatan dan non-intervensi.
Pemerintah Rusia secara resmi menjanjikan “dukungan teguh” dan solidaritas penuh kepada kepemimpinan Mojtaba di tengah tekanan militer Barat.
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman menyambut baik kabar ini dan menyebutnya sebagai “kemenangan baru” bagi front perlawanan serta pukulan bagi musuh-musuh Iran.
Mojtaba Khamenei naik takhta saat Iran sedang dalam kondisi terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir. Selain menghadapi serangan udara masif yang menghancurkan infrastruktur militer dan fasilitas nuklir, Iran juga masih didera ketegangan internal akibat protes domestik yang meluas di awal tahun 2026.
Di tengah pengumuman pemimpin baru ini, rakyat Iran juga sedang dalam suasana berkabung nasional menyusul serangan udara di Minab yang menewaskan sedikitnya 165 anak sekolah perempuan, sebuah tragedi yang disebut UNESCO sebagai “pelanggaran berat” hukum internasional. (Ha)






















