Senyap di Balik Gerbang Beton: Kala Denyut Pasar Pon Blitar Perlahan Memudar

Blitar, serayunusantara.com — Dahulu, nama Pasar Pon adalah jaminan keramaian. Langkah kaki para pedagang dan tawar-menawar yang riuh menjadi simfoni harian di pasar yang menjadi salah satu pilar ekonomi warga Blitar ini.

Namun kini, atmosfer itu seolah menguap ditelan zaman. Berjalan menyusuri lorong-lorongnya kini tak lagi mengharuskan kita bersenggolan bahu; yang tersisa hanyalah deretan kios dengan pintu harmonika yang tertutup rapat, Selasa (17/02/2026).

Fenomena sepinya penjual di Pasar Pon menjadi potret buram ritel tradisional di tengah gempuran belanja daring dan menjamurnya pasar modern.

Satu per satu pedagang memilih angkat kaki, menyerah pada keadaan di mana jumlah pengunjung tak lagi sebanding dengan biaya operasional harian.

Lorong yang dulu penuh dengan tumpukan barang dagangan, kini lebih sering terlihat kosong, hanya menyisakan beberapa pedagang setia yang masih bertahan di antara bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Baca Juga: Pasar Pon Trenggalek: Pusat Ekonomi Baru yang Tak Pernah Sepi Hingga Malam Hari

Andi (35), seorang warga yang sudah puluhan tahun berlangganan di pasar ini, menatap nanar ke arah deretan toko yang tutup.

“Rasanya sedih melihat kondisi sekarang. Dulu cari apa saja di sini ada, sekarang mau beli kancing baju saja tokonya sudah pindah atau tutup permanen,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan; pembeli enggan datang karena pilihan barang semakin sedikit, dan pedagang pun pergi karena tak ada pembeli yang datang.

Jika tak ada intervensi serius untuk menghidupkan kembali ekosistem pasar, kehampaan ini dikhawatirkan akan menjadi akhir dari riwayat salah satu pusat perdagangan bersejarah di Kota Blitar. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *