Tulungagung, serayunusantara.com — Bagi sebagian besar masyarakat, biawak atau yang lebih dikenal dengan istilah lokal “Nyambik” mungkin dianggap sebagai hewan liar yang menakutkan.
Namun, di beberapa kawasan pinggiran hutan di Tulungagung, aktivitas berburu nyambik telah menjadi tradisi unik yang tidak hanya bertujuan untuk mengendalikan populasi hewan pemangsa ternak.
Tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar kuliner ekstrem yang kian meningkat, Sabtu, (03/01/2026).
Para pemburu biasanya bergerak dalam kelompok kecil dengan membawa peralatan seperti jerat atau anjing pemburu yang terlatih.
Kawasan rawa dan semak belukar di sekitar anak sungai menjadi lokasi utama pencarian hewan ini.
Selain dianggap sebagai hobi yang menguji keberanian, hasil tangkapan biasanya dijual ke pengusaha warung makan yang menyediakan menu khas daging biawak yang dipercaya memiliki khasiat tertentu bagi kesehatan kulit.
Yanto (48), seorang pemburu nyambik yang sudah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun di Tulungagung, menceritakan tantangan yang dihadapinya.
Menurutnya, berburu nyambik ini tidak boleh sembarangan, kita harus tahu lubangnya dan paham waktu mereka keluar mencari makan. Biasanya musim hujan begini mereka lebih aktif.
“Selain membantu petani karena nyambik sering memakan ayam ternak, hasilnya bisa menambah pendapatan. Banyak yang mencari dagingnya karena katanya obat gatal, tapi bagi kami yang penting adalah kepuasan saat berhasil menjejaki hewan yang lincah ini,” ujarnya.
Meskipun aktivitas ini populer, komunitas pemburu di Tulungagung tetap diingatkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan tidak memasuki kawasan hutan lindung secara ilegal.
Fenomena ini terus menjadi sisi unik kehidupan masyarakat Tulungagung yang harmoni dengan alam sekitarnya. (Fis/Serayu)

























