Surabaya, serayunusantara.com – Meskipun secara umum perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di berbagai wilayah terpantau kondusif, munculnya insiden gesekan fisik di Surabaya dan Makassar pada Sabtu (21/3/2026) menjadi catatan serius bagi aparat keamanan.
Dua peristiwa yang meletus tepat setelah pelaksanaan Salat Id tersebut menunjukkan kerentanan stabilitas di titik-titik kerumunan massa yang padat.
Pimpinan daerah beserta aparat kepolisian kini tengah mendalami pemicu utama dari dua bentrokan yang sempat mencoreng kesucian momentum Lebaran tersebut.
Di Surabaya, kawasan Masjid Kemayoran Takmiriyah mendadak mencekam saat sekelompok pemuda terlibat baku hantam dengan sejumlah jemaah di halaman masjid. Kericuhan ini pecah sesaat setelah ribuan warga menyelesaikan ibadah tahunan mereka dan bersiap untuk saling bermaaf-maafan.
Berdasarkan rekaman video amatir yang beredar luas, aksi saling pukul tidak terhindarkan di tengah kerumunan massa. Meskipun belum ada laporan resmi mengenai adanya korban luka berat, kepanikan yang ditimbulkan sempat menghambat arus bubaran jemaah dan menimbulkan ketegangan di area sekitar masjid.
“Sangat disayangkan hal ini terjadi di lingkungan rumah ibadah pada momen Lebaran. Kami masih menunggu hasil investigasi mengenai motif di balik perselisihan tersebut,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Sementara itu, konflik di Lapangan Karebosi, Makassar, memiliki latar belakang yang berbeda. Ketegangan di lokasi ini dipicu oleh persoalan manajemen lapangan antara pihak panitia penyelenggara dan jemaah.
Kesalahpahaman terkait pengaturan saf shalat menjadi sumbu ledak emosi yang hampir berujung pada bentrokan fisik secara terbuka. Beruntung, kehadiran aparat keamanan dan tokoh agama yang segera melakukan mediasi di lokasi mampu mendinginkan suasana sebelum situasi benar-benar lepas kendali.
Berkaca dari dua kejadian ini, kepolisian di Surabaya maupun Makassar kini memperketat pengawasan di area-area publik dan destinasi wisata selama sisa libur Lebaran. Patroli rutin ditingkatkan guna mencegah adanya potensi gesekan susulan yang dipicu oleh masalah sepele atau provokasi di media sosial. (Ko/serayu)




















