Jakarta, serayunusantara.com – Pemerintah terus memperkuat strategi ekonomi nasional melalui kombinasi kebijakan yang terintegrasi guna menghadapi ketidakpastian global, sekaligus menjaga ketahanan ekonomi Indonesia tetap stabil di tengah tekanan geopolitik dan dinamika pasar internasional.
Langkah tersebut ditegaskan melalui penguatan agenda hilirisasi industri yang menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi. Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.
Baca Juga: Industri Sawit Perkuat Peran Strategis dalam Mendorong Ekonomi Hijau Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti potensi risiko global yang perlu diantisipasi sejak dini. “Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi,” ujarnya dalam keynote speech pada forum diskusi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Jumat (17/04).
Di tengah tantangan tersebut, kinerja ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11% dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,3% pada 2026. Stabilitas ini turut didukung oleh inflasi yang terkendali, tingkat kepercayaan konsumen yang tetap tinggi, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.
Kekuatan ekonomi domestik menjadi penopang utama, terutama melalui konsumsi masyarakat yang berkontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, struktur pembiayaan nasional yang sehat, termasuk rasio utang luar negeri yang terjaga, serta sektor perbankan yang likuid dan memiliki permodalan kuat, turut memperkokoh stabilitas sistem keuangan.
Untuk meredam dampak eksternal, pemerintah memperkuat bauran kebijakan dari sisi fiskal dan moneter. Optimalisasi penerimaan negara, efisiensi belanja, serta pengalihan anggaran ke sektor produktif menjadi fokus utama. Sementara itu, koordinasi dengan Bank Indonesia terus diperkuat guna menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi pasar dan kerja sama transaksi mata uang lokal.
Upaya menjaga daya beli masyarakat juga dilakukan melalui percepatan penyaluran bantuan sosial dan stimulus fiskal. Di sektor energi, pemerintah memperkuat ketahanan melalui program biodiesel B50 serta pengembangan energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi fluktuasi harga energi global.
Di tingkat internasional, pemerintah terus memperluas kerja sama perdagangan dan investasi. Sejumlah perjanjian strategis seperti Indonesia–EU CEPA dan Indonesia–Canada CEPA menjadi langkah penting dalam membuka akses pasar baru dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Baca Juga: Pasar Sidayu Gresik Disulap Lebih Modern, Jadi Motor Ekonomi dan Dorong Pedagang Go Digital
Kerja sama bilateral juga diperkuat, termasuk dengan Rusia, yang mencakup sektor energi, industri, dan keuangan. Kolaborasi ini meliputi pengamanan pasokan energi, pengembangan industri berbasis hilirisasi, hingga peningkatan kerja sama investasi dan perdagangan.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Indonesia juga aktif dalam berbagai forum global untuk mendorong transisi energi bersih dan memperkuat ketahanan energi kawasan. Kolaborasi internasional ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global, sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. (San)

























