Blitar, serayunusantara.com — Suasana sunyi di berbagai sudut Kota Blitar selama siang hari bulan Ramadan seketika berubah drastis saat malam tiba. Sejumlah warung kopi (warkop) di Bumi Bung Karno terpantau mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan atau “meledak” sesaat setelah ibadah Tarawih usai, Senin (23/02/2026).
Fenomena ini menjadi tren tahunan di mana aktivitas sosial masyarakat yang sempat tertunda di siang hari, kini bergeser ke malam hari. Berdasarkan pantauan di beberapa titik seperti kawasan Jalan Merdeka, Jalan Sudanco Supriyadi, hingga area sekitar Alun-Alun Kota Blitar, kursi-kursi warkop yang semula kosong kini mulai terisi penuh sejak pukul 20.00 WIB.
Ahmad Khusni, salah seorang pengunjung warkop di kawasan Bendogerit, menyebutkan bahwa momen ngopi malam adalah waktu yang paling dinantikan untuk melepas penat.
“Seharian menahan dahaga, malam ini jadi waktu yang tepat untuk menikmati kopi sambil silaturahmi dengan teman-teman. Rasanya seperti ada yang kurang kalau belum ngopi di warkop setelah Tarawih,” ujarnya.
Baca Juga: Jedah Sejenak Tradisi “Kopag”: Kala Warkop Samping Istana Gebang Merangkul Sunyi Ramadan
Lonjakan pelanggan ini memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha kopi lokal. Sebagian besar pemilik warkop bahkan menambah stok bahan baku dan memperpanjang jam operasional hingga menjelang waktu sahur guna mengakomodasi antusiasme warga.
Nanang (52), yang mengamati dinamika ekonomi lokal, memberikan catatan penting terkait fenomena ini.
“Ini adalah bukti hidupnya ekonomi rakyat di malam hari. Namun, tips dari saya untuk para pengelola warkop, tetap jaga ketertiban dan jangan sampai suara bising mengganggu ketenangan warga yang sedang beristirahat,” ujarnya.
Meningkatnya intensitas kunjungan di warkop-warkop ini tidak hanya memutar roda ekonomi, tetapi juga mempererat kohesi sosial masyarakat Blitar. Di bawah kepulan asap rokok dan aroma kopi, berbagai lapisan masyarakat berbaur, menjadikan warkop sebagai ruang publik yang paling inklusif di tengah suasana bulan suci.
Hingga berita ini diturunkan, keramaian di pusat-pusat kuliner malam Kota Blitar diprediksi akan terus berlangsung hingga akhir bulan Ramadan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan ruang interaksi sosial pasca-beraktivitas seharian. (Fis/Serayu)
























