Blitar, serayunusantara.com — Di sebuah sudut jalan yang berdebu, suara desis kompresor dan bau karet terbakar menjadi irama harian bagi sosok pria paruh baya yang tangannya legam tertutup oli.
Tak banyak yang menyangka, di balik lapak sederhana beralaskan aspal dan beratnya beban tuas besi, tersimpan sebuah tekad baja yang baru saja tuntas ditunaikan: menyulap tetesan keringat menjadi toga sarjana bagi sang buah hati, Minggu (22/02/2026).
Pekerjaan sebagai tukang tambal ban sering kali dipandang sebelah mata, dianggap hanya cukup untuk menyambung nyawa dari hari ke hari.
Namun bagi pria ini, setiap lubang pada ban yang ia tambal adalah anak tangga menuju masa depan anaknya yang lebih cerah. Selama bertahun-tahun, ia menyisihkan rupiah demi rupiah, mengabaikan rasa nyeri di punggung demi membayar uang kuliah yang tak murah.
Surya (52), yang mengenal baik sosok pejuang ini, menatap bangga saat melihat foto wisuda sang anak terpajang di dinding lapak yang kusam.
“Ini adalah bukti bahwa nasib tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, tapi oleh besar kecilnya tekad. Beliau ini jarang mengeluh, meski tengah malam ada yang panggil untuk tambal ban darurat, pasti berangkat,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca Juga: Air Mata di Balik Gemerlap Dunia Malam: Kisah Janda Muda Blitar Terpaksa Jadi LC
Perjalanan menyekolahkan anak hingga jenjang S1 bagi seorang tukang tambal ban bukanlah jalan tol yang mulus. Ada kalanya lapak sepi saat cuaca panas terik, atau kompresor tua yang tiba-tiba rusak di saat kebutuhan bayaran kuliah sedang mendesak.
Namun, keteguhan hati sang ayah rupanya menular pada sang anak, yang belajar di bawah lampu neon lapak sambil menemani ayahnya bekerja hingga larut malam.
Kini, sang anak telah menyandang gelar sarjana, sebuah pencapaian yang bagi keluarga ini terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Gelar itu bukan sekadar titel di belakang nama, melainkan monumen kemenangan atas rasa lelah dan keterbatasan ekonomi.
Kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh warga Blitar bahwa di balik keriuhan kota, selalu ada pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di atas aspal.
Mereka membuktikan bahwa tangan yang kotor oleh oli dan debu jalanan, mampu mengantarkan tangan-tangan generasi penerus untuk memegang pena dan membangun masa depan bangsa yang lebih gemilang. (Fis/Serayu)
























