Bandung, serayunusantara.com – Kontroversi video viral pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG), Hendrik Irawan, memasuki babak baru.
Pasca pembekuan operasional oleh Badan Gizi Nasional (BGN), Hendrik secara terbuka menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengungkapkan dampak sosial besar yang timbul akibat penghentian aktivitas dapurnya di Batujajar.
Penutupan ini merupakan buntut dari video Hendrik yang memamerkan keuntungan Rp6 juta per hari dan berjoget di area dapur tanpa Alat Pelindung Diri (APD). BGN menilai tindakan tersebut melanggar etika program negara dan petunjuk teknis (juknis) tata letak dapur.
Dalam klarifikasinya, Hendrik menyatakan penyesalan mendalam namun juga menyayangkan masifnya laporan netizen yang berujung pada penutupan usahanya. Ia mengungkapkan bahwa keputusan BGN berdampak langsung pada nasib ratusan pekerja di bawah naungannya.
“Dengan hujatan Anda, cacian makian Anda, dan laporan Anda kepada BGN, ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja, yang tidak akan produksi untuk tanggal 31 nanti,” ujar Hendrik dengan nada prihatin, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Menu MBG Dikeluhkan Tak Layak, Wali Kota Malang Bakal Evaluasi dan Panggil Seluruh Pengelola SPPG
Ia menambahkan bahwa para relawan tersebut sebenarnya sudah sangat bersemangat untuk kembali bekerja pasca-libur Lebaran demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarga mereka.
Hendrik membantah tuduhan bahwa dirinya berniat melecehkan program pemerintah maupun rakyat Indonesia. Ia berdalih aksi “ngedance” tersebut dilakukan spontan tanpa menyangka akan memicu kegaduhan nasional.
“Saya tidak ada niat untuk melecehkan program Bapak Prabowo Subianto. Saya berterima kasih kepada Bapak Doni Sitorus sebagai pengawas. Saya akui tidak mematuhi protokol saat melakukan aksi tersebut di ruangan yang tidak semestinya,” akunya.
Di sisi lain, Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati, tetap pada posisi tegas bahwa program MBG adalah misi kemanusiaan dan kesehatan, bukan komoditas bisnis pribadi. Penemuan pelanggaran protokol kesehatan dan ketidaksesuaian layout dapur menjadi dasar utama pembekuan sementara ini.
“Ini bukan bisnis pribadi. Ini program negara untuk kepentingan masyarakat luas,” tegas Nanik.
Baca Juga: Hindari Pemeriksaan OJK, Tersangka Kasus BPR Malang Ditangkap di Stasiun Gambir
Meski operasional dihentikan sementara, BGN telah menugaskan tim khusus untuk memberikan pembinaan langsung kepada Hendrik. Langkah ini diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh agar seluruh mitra program MBG di masa depan benar-benar mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ketat, baik dari sisi teknis maupun etika publik.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi seluruh mitra pemerintah bahwa transparansi dan integritas dalam menjalankan program negara akan selalu berada di bawah pengawasan ketat masyarakat dan instansi terkait. (Ko/serayu)

























