Trenggalek, serayunusantara.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek menegaskan bahwa visi “Kota Atraktif” yang diusung untuk tahun 2026 bukan sekadar upaya mempercantik wajah kota.
Konsep ini merupakan strategi besar untuk membangun daerah yang kompetitif sekaligus inklusif dengan melibatkan partisipasi aktif perempuan, anak, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, saat hadir sebagai narasumber dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Kelompok Rentan Lainnya (Musrena Keren) 2026 di Pendopo Manggala Praja Nugraha.
Doding menjelaskan bahwa arah pembangunan daerah telah diselaraskan dengan RPJPD dan RPJMD. Pada periode 2026 hingga 2027, Pemerintah Kabupaten bersama legislatif fokus pada penguatan infrastruktur yang berkualitas, berkelanjutan, serta ramah lingkungan.
Menurut Doding, daya tarik sebuah kota harus dibangun melalui penataan ruang publik dan pengembangan sektor pariwisata yang terarah. Ia menekankan bahwa setiap pembangunan yang dilakukan harus bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Pembangunan atraktif ini juga harus inklusif, harus one for all. Satu untuk semua, semua untuk satu. Artinya pembangunan itu harus merangkum dari aspirasi semua masyarakat di Kabupaten Trenggalek,” ujar Doding menegaskan prinsip keadilan sosial dalam pembangunan.
Dalam rencana strategisnya, sejumlah proyek infrastruktur akan mendapatkan dukungan anggaran yang kuat. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan Goa Lowo, Pantai Simbaronce, hutan kota, penataan alun-alun, pembangunan jogging track, hingga jalur pedestrian yang ramah pejalan kaki.
“Ini perlu kami sosialisasikan, karena bahkan teman-teman anggota dewan pun kadang bertanya, kota atraktif itu seperti apa. Kota atraktif itu ya kota yang menarik. Trenggalek harus punya daya tarik,” tambahnya.
Baca Juga: Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek Desak Kejelasan Nasib Ratusan Guru PPG dan Non-PPG Prajabatan
Doding optimistis bahwa wajah kota yang lebih tertata akan menumbuhkan kebanggaan bagi warga lokal sekaligus menarik minat wisatawan dari luar daerah. Hal ini dipercaya menjadi kunci utama dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.
“Harapan kita, Trenggalek bisa mendatangkan masyarakat dari luar. Warga Trenggalek sendiri bangga, orang luar juga tertarik datang. Tanpa itu, peningkatan ekonomi di Kabupaten Trenggalek akan sulit,” tegasnya.
Mengakhiri pemaparannya, politisi ini menekankan pentingnya pola perencanaan bottom-up. Pembangunan tidak boleh hanya berdasarkan keinginan pimpinan semata, tetapi harus menyerap aspirasi riil dari tingkat kecamatan hingga kelompok masyarakat yang paling rentan.
“Harus bottom up juga, tidak bisa hanya top down keinginan bupati semata. Kita menjaring aspirasi dari kecamatan-kecamatan, termasuk hari ini dari teman-teman perempuan, anak dan rekan disabilitas,” pungkas Doding. (Hamzah)


















