Berkah Tradisi Kupatan: Penjualan Klongsongan Ketupat di Pasar Templek Kota Blitar Masih Kebanjiran Pembeli

Blitar, serayunusantara.com — Gema takbir mungkin telah berlalu, namun keriuhan di pasar tradisional Kota Blitar belum menunjukkan tanda-tanda surut. Pantauan di Pasar Templek pada Kamis (26/03/2026) menunjukkan aktivitas perdagangan klonsongan atau anyaman janur ketupat masih berlangsung sangat ramai.

Fenomena ini dipicu oleh kuatnya tradisi “Kupatan” yang lazim dirayakan masyarakat Bumi Bung Karno beberapa hari setelah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Sejak pagi buta, deretan pedagang klonsongan ketupat tampak memenuhi sudut-sudut pasar, melayani warga yang datang silih berganti. Tradisi Kupatan yang identik dengan sajian ketupat sayur dalam momen silaturahmi lingkungan membuat anyaman janur ini menjadi komoditas yang paling diburu.

Hal ini membuktikan bahwa perayaan lebaran di Blitar memiliki “napas panjang” yang berdampak positif pada perputaran ekonomi kerakyatan.

Siti Aminah, salah satu pedagang di Pasar Templek, mengungkapkan bahwa tren penjualan tahun ini tergolong stabil dan bertahan lebih lama dibanding tahun sebelumnya. Baginya, tradisi lokal adalah penyelamat dapur pedagang kecil pasca-puncak lebaran.

“Biasanya setelah Lebaran masih banyak yang mencari untuk acara kupatan. Jadi kami tetap berjualan karena permintaan masih ada. Alhamdulillah, meski hari raya inti sudah lewat, pembeli yang datang untuk persiapan kenduri atau makan besar di rumah masih terus mengalir,” ujar Siti Aminah.

Baca Juga: Tradisi Beli Baju Baru Lebaran Masih Bertahan, Toko Pakaian di Blitar Mulai Ramai Pembeli

Dari segi harga, klonsongan ketupat di Pasar Templek dinilai masih sangat kompetitif dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Stabilitas harga ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang enggan repot menganyam sendiri di rumah.

Salah seorang pembeli, Ahmad Faisal (28), mengaku lebih memilih membeli klonsongan siap pakai di pasar demi kepraktisan saat menjamu sanak saudara yang masih berkunjung.

“Masih ada tradisi kumpul keluarga setelah Lebaran, jadi tetap membuat ketupat. Lebih praktis beli klonsongan di pasar, tinggal isi beras dan masak. Ini bagian dari melestarikan kebiasaan orang tua dulu,” kata Ahmad.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Blitar memberikan apresiasi terhadap bertahannya tradisi Kupatan ini. Selain sebagai identitas budaya yang mempererat tali persaudaraan, tradisi ini terbukti menjadi stimulus bagi ekosistem pasar tradisional agar tetap bergairah.

Pemerintah mendorong masyarakat untuk terus berbelanja di pasar lokal guna memperkuat kedaulatan ekonomi daerah di tengah gempuran modernisasi. (Fis/Serayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *