Lapak Baca Ceria Bedah Paradox Pembangunan Blitar: Antara Eksploitasi Pasir dan Gunungan Sampah

Blitar, serayunusantara.com – Lapak Baca Ceria kembali menggelar ruang dialektika di Kedai Satu Rasa, Kota Blitar, pada Sabtu malam. Mengangkat tema besar “Kiamat Ekologi: Membedah Paradox Pembangunan”, diskusi ini menyoroti luka lingkungan yang menganga di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi, khususnya mengenai eksploitasi pasir dan karut-marut pengelolaan sampah di Blitar.

Hadir sebagai pemantik pertama, Saipudin, seorang pegiat yang aktif bersentuhan dengan isu lingkungan, memaparkan pengalaman pahitnya dalam mengadvokasi kasus pertambangan. Menurutnya, pembangunan yang hanya mengejar target material seringkali mengabaikan daya dukung alam dan kedaulatan warga lokal.

“Dalam pengalaman saya mengadvokasi isu tambang, kita sering berhadapan dengan tembok tebal bernama izin formal yang mengabaikan dampak sosial-ekologis. Eksploitasi pasir di Blitar bukan sekadar soal pengambilan material, tapi soal penghancuran ekosistem sungai dan hilangnya ruang hidup masyarakat. Pembangunan tidak boleh menjadi pembenaran untuk merampok hak generasi mendatang,” tegas Saipudin di depan puluhan peserta yang hadir.

Senada dengan hal tersebut, Imey Chaterine M. menyajikan data-data faktual mengenai krisis sampah yang kian mengkhawatirkan. Ia menekankan bahwa gunungan sampah di tempat pembuangan akhir adalah bukti kegagalan sistemik dalam mengelola konsumsi dan limbah di tingkat lokal.

“Sangat memprihatinkan melihat bagaimana pengelolaan sampah kita masih sangat kurang dan jauh dari kata ideal. Data menunjukkan volume sampah terus meningkat tanpa dibarengi dengan teknologi pengolahan yang mumpuni atau edukasi pengurangan sampah yang masif. Kita sedang menabung bom waktu ekologi jika hanya terus membuang tanpa mengelola,” ungkap Imey dengan nada prihatin.

Baca Juga: Oleh-oleh Khas Blitar Ramai Diburu Jelang Lebaran, Penjualan di Sejumlah Toko Meningkat

Diskusi yang berlangsung hangat dengan sesi tanya jawab ini menjadi ruang bagi warga Blitar untuk merefleksikan kembali arah pembangunan daerahnya. Menutup agenda tersebut, Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menegaskan bahwa diskusi ini adalah upaya untuk menjaga kewarasan publik di tengah normalisasi kerusakan lingkungan.

“Lapak Baca Ceria berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang seperti ini. Kami percaya bahwa literasi tidak hanya berhenti di lembar buku, tapi harus bertransformasi menjadi kesadaran kritis terhadap realitas di sekitar kita. Masalah sampah dan tambang adalah masalah kita bersama, dan suara-suara kritis dari meja kopi inilah yang akan terus menjaga api kepedulian itu tetap menyala,” pungkas Reyda Hafis.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi panggung bebas, di mana para peserta menyuarakan keresahan mereka melalui puisi dan orasi singkat, menegaskan bahwa warga Blitar tidak sedang baik-baik saja dengan kondisi lingkungannya saat ini. (Ko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *