Blitar, serayunusantara.com — Wangi aroma kopi beradu dengan bait-bait sajak yang menggema di Kedai Kopi Satu Rasa, Kota Blitar, Sabtu (07/03/2026) malam.
Kolaborasi apik antara komunitas Lapak Baca Ceria dan Suara Sastra sukses menghadirkan agenda “Tadarus Puisi & Panggung Bebas”, sebuah ruang ekspresi terbuka yang mengajak muda-mudi Blitar kembali akrab dengan dunia literasi dan sastra.
Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB ini menyuguhkan atmosfer yang intim namun inklusif. Puluhan pengunjung kedai tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberi kesempatan naik ke panggung untuk membacakan puisi karya penyair besar Indonesia maupun karya orisinal mereka sendiri.
Panggung bebas ini menjadi bukti bahwa sastra bisa dinikmati siapa saja tanpa sekat formalitas.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menjelaskan bahwa pemilihan istilah “Tadarus Puisi” bertujuan untuk menciptakan kebiasaan membaca yang tekun dan mendalam, layaknya aktivitas tadarus pada umumnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan Suara Sastra adalah upaya untuk memperluas spektrum penikmat buku di Blitar.
Baca Juga: Menjaga Api di Tengah Sepi, Lapak Baca Ceria Tegaskan Komitmen Rawat Nalar Kritis di Kota Blitar
“Kami ingin menunjukkan bahwa puisi dan buku bukan hanya milik akademisi di ruang kelas. Melalui Tadarus Puisi ini, kami membawa sastra ke tempat tongkrongan seperti Kedai Satu Rasa agar lebih membumi,” ungkap Reyda Hafis di sela-sela acara.
Senada dengan Reyda, Fufut Shokibul selaku simpatisan aktif Lapak Baca Ceria, melihat antusiasme pengunjung malam ini sebagai sinyal positif bangkitnya ekosistem kreatif di Bumi Bung Karno.
Ia menilai panggung bebas seperti ini sangat efektif untuk memantik rasa percaya diri generasi Z dalam berpendapat dan berkarya.
“Ini ruang yang sehat untuk menyalurkan energi muda. Kita butuh lebih banyak kolaborasi lintas komunitas seperti ini agar Blitar tidak kekurangan ruang dialektika,” ujar Fufut Shokibul dengan antusias.
Acara ditutup dengan sesi diskusi ringan mengenai perkembangan sastra lokal dan rencana kolaborasi selanjutnya.
Kehadiran Lapak Baca Ceria dan Suara Sastra di Kedai Kopi Satu Rasa malam ini membuktikan bahwa di tengah gempuran tren digital, kekuatan kata-kata dan interaksi fisik melalui buku masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Blitar. (Fin/Serayu)
























