Kediri, serayunusantara.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri terus tancap gas dalam upaya menciptakan generasi bebas stunting. Melalui kegiatan “Rembuk Stunting” tingkat kecamatan yang dimulai di Kecamatan Mojoroto, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merumuskan aksi konkret di lapangan.
Langkah ini merupakan tindak lanjut atas prestasi Kota Kediri yang berhasil meraih peringkat ke-2 nasional dalam kinerja pencegahan stunting pada tahun 2025 lalu, Jumat (06/02/2026).
Fokus utama dalam rembuk tahun ini adalah penguatan sinergi antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan kader posyandu.
Salah satu kebijakan strategis yang diunggulkan adalah peningkatan kualitas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, yang kini nilainya dialokasikan sebesar Rp15 ribu per paket.
Selain itu, kolaborasi dengan 24 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kota Kediri akan diperketat guna memantau gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita secara lebih presisi.
Rohmadi (45), seorang tokoh masyarakat yang hadir dalam rembuk tersebut, memberikan apresiasinya terhadap kenaikan anggaran PMT.
Baca Juga: Jaga Tradisi Swasembada: Mas Dhito Guyur Petani Kediri Bantuan Alsintan dan Benih Padi Unggul
“Ini kabar baik untuk kesehatan anak-anak kita. Kalau makanan tambahannya berkualitas, saya yakin target prevalensi stunting di bawah 4 persen bukan hal yang mustahil untuk dicapai tahun ini,” ujarnya.
Data menunjukkan tren penurunan prevalensi stunting di Kota Kediri yang cukup signifikan, dari 4,9 persen di tahun 2024 menjadi 4,6 persen di tahun 2025.
Dengan adanya forum rembuk ini, diharapkan muncul komitmen bersama untuk mengidentifikasi sasaran “3B” (Ibu hamil, Ibu menyusui, dan Balita) agar mendapatkan intervensi gizi yang tepat sasaran dan tepat manfaat.
Melalui langkah gotong royong antara pemerintah dan warga, Kota Kediri bertekad untuk memastikan setiap anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, tangguh, dan kuat tanpa hambatan tumbuh kembang. (Fis/Serayu)
























